Showing posts with label Materi Bahasa Indonesia Menulis. Show all posts
Showing posts with label Materi Bahasa Indonesia Menulis. Show all posts

Monday, August 17, 2015

Cara Membuat Surat Lamaran Kerja

Berikut di bawah ini adalah struktur atau format penulisan surat lamaran kerja

1.Tempat dan tanggal penulisan
2.Perusahaan yang ditujukan
3.Salam hormat
4.Kata pengantar
5.Biodata pribadi
6.Pengalaman kerja dan skill
7.Harapan
8.Penutup

tips dalam membuat surat lamaran pekerjaan

1.Menggunakan bahasa yang baik dan benar
2.Format penulisan tersusun rapi dengan bahasa yang tidak bertele-tele
3.Surat lamaran kerja hendaknya ditulis secara manual dan memang anda yang membuatnya
4.Lengkapi dengan data-data yang dibutuhkan oleh perusahaan tempat anda melamar kerja
5.Lampirkan surat pendukung lainnya seperti sertifikat pengalaman kerja



Contoh surat lamaran kerja



Bali, 20 Maret 2014
Kepada Yth :
HRD PT NUSANTARA
Jl. Ahmad Yani No. 10 Singaraja Bali

Perihal : Lamaran kerja

Dengan Hormat

Berdasarkan informasi dari media cetak, koran Terpadu perihal lowongan pekerjaan di perusahaan tempat Bapak/Ibu pimpin. Melalui surat lamaran ini saya ingin mengajukan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin guna mengisi posisi yang dibutuhkan saat ini. Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama                          : Fahrur Rozi
Tempat/Tanggal Lahir : Singaraja, 11 Agustus 1989
Jenis Kelamin              : Laki-laki
Pendidikan                  : SMK Perhotelan Bina Lestari Bali
Alamat                        : Jl. Dewi Sartika No. 8 RT/RW 09/006
Telepon                       : 085252446757

Untuk melengkapi beberapa data yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu pimpinan diwaktu yang akan datang, saya lampirkan juga kelengkapan data diri sebagai berikut :

1.Pas Photo.
2.Foto copy KTP
3.Daftar Riwayat Hidup
4.Foto copy Ijazah Terakhir
5.Foto copy Sertifikat Competensi
6.Foto copy Sertifikat PKL

Demikian surat lamaran ini saya buat dengan sebenarnya dan atas perhatian serta kebijaksanaan Bapak/Ibu pimpinan saya mengucapkan terimakasih.


Hormat saya


Fahrur Rozi


Berikut ini adalah contoh-contoh surat lamaran kerja :
  1. Surat lamaran berdasarkan informasi job fair
  2. Surat lamaran berdasarkan informasi bursa kerja khusus
  3. Surat lamaran berdasarkan informasi Dinas Pendidikan
  4. Surat lamaran berdasarkan informasi dari seseorang
  5. Surat lamaran berdasarkan informasi lewat internet
  6. Surat lamaran berdasarkan informasi lowongan kerja
  7. Surat lamaran berdasarkan inisiatif sendiri


Latihan Soal

Posted By Pak3Haryanto11:03 PM

Wednesday, October 15, 2014

Menulis Resensi


MENULIS RESENSI
Cara menulis resensi buku :
1. Membaca dan memahami buku tersebut secara kritis
2. Membaca kata pengantar dan pendahuluan, ringkasan buku
3. Membaca keseluruhan isi buku dan mencatat hal-hal yang penting
Hal-hal yang perlu diulas dalam resensi :
1. Judul resensi
2. Identitas buku
3. Riwayat kepengarangan
4. Ikhtisar/sinopsis
5. Kelemahan dan keunggulan buku
6. Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam buku
7. Kesimpulan resensi
Pertanyaan panduan yang digunakan dalam membuat ikhtisar/sinopses novel/cerpen adalah
1. Siapakah tokoh atau tokoh-tokoh utama pada novel yang kalian baca !
2. Masalah apakah yang tengah dihadapi para tokoh ?
3. Bagaimana akhir nasib tokoh-tokoh tersebut ?
Ubahlah jawaban soal tersebut menjadi ikhtisar/sinopsis cerpen/novel.
Cara mengulas keunggulan dan kelemahan resensi :
Dapat dilakukan dengan cara menganalisis unsur novel yang diresensi. Unsur-unsur novel yang dianalisis, misalnya Alur, tokoh, tema, latar, bahasa, sudut pandang pengarang, atau nilai-nilai kehidupan yang diungkapkan pengarang.
Pertanyaan panduan yang digunakan untuk membantu keunggulan/kelemahan novel :
1. Apakah alur novel dekembangkan dengan konlik-konflik yang menarik ?
2. Apakah pengarang menampilkan peristiwa-peristiwa yang menarik untuk diikuti dalam pengembangan cerita ?
3. Apakah pengarang menampilkan tokoh dengan karakter yang khas ?
4. Apakah pengarang mengembangkan karakter tokoh dengan menekankan pendapat perkembangan aspek psikologi dan sosial secara berimbang ?
5. Apakah tema yang diketengahkan tergolong baru dan relevan dengan persoalan masyarakat sekarang ?
6. Apakah titik pandang yang dipilih pengarang ?
7. Apakah kisah yang dikembangkan pengarang berhubungan dengan salah satu sisi kehidupannya sendiri ?
8. Apakah bahasa yang digunakan pengarang komunikatif ?
9. Apakah nilai-nilai kehidupan yang disampaikan merupakan isu atau pandangan baru tentang kehidupan ?
Ubahlah jawaban kalian menjadi karangan singkat yang berisi analisis terhadap novel yang yang kalian baca
Pertanyaan panduan yang digunakan dalam membuat manfaat membaca buku adalah :
1. Apakah kalian menemukan kehidupan yang diulas dengan sudut pandang yang baru ?
2. Apakah kalian mendapat pelajaran untuk meningkatkan kualitas hidup setelah membaca novel tersebut ?
3. Apakah kalian akan bersikap lebih bijaksana dalam mengambil keputusan setelah membaca novel tersebut ? Apa motivasinya ?
Ubahlah jawaban kalian menjadi paragraf yang berisi pendapat tentang manfaat membaca novel tersebut !
Contoh resensi cerpen
Potret Muram Keluarga Indonesia
Judul          : Bukan Pasar MalamPengarang : Pramoedya Ananta ToerPenerbit     : Bara Budaya , YogyakartaEdisi            : November 2002Tebal           : V1 + 103             Pramoedya Ananta Toer termasuk salah seorang yang karya-karyanya dilarang beredar di masa orde baru. Sekarang di era reformasi, kita bisa menikmati segala macam buku, termasuk juga karya-karya Pramoedya, baik yang dicetak ulang maupun yang baru.Salah satu karya Pramoedya yang diterbitkan kembali adalah novel “Bukan Pasar Malam.” Novel yang ditulis oleh Pram tahun 1951 ( hal V1).Kisah novel ini diawali dari tokoh “aku” yang tinggal di Jakarta, menerima surat yang menyuruhnya pulang ke Blora karena ada keluarga yang sakit. “Aku’ membalasnya dengan sebuah “ Surat Merah” yang menuding seluruh anggota keluarga tidak bisa menjaga dan mencegah penyakit TBC (Tuberkulose) menggerogoti si sakit.Surat kedua menyusul. Kali ini yang menulis surat adalah pamannya, yang menjelaskan bahwa si sakit tak lain ayahnya sendiri. “Aku” menyesal telah mengirimkan “Surat Merah” itu yang kelak penyesalannya ini tidak terbatas dan mewarnai isi keseluruhan novel. ”Aku” memutuskan untuk pulang ke Blora tapi bingung karena kondisi keuangan tidak mencukupi untuk ongkos pulang balik Jakarta-Blora.“Aku” berkeliling Jakarta untuk meminjam uang dari teman dan pulang ke Blora melewati tempat-tempat yang dulu menjadi ajang konfrontasi perjuangan kemerdekaan. Dari situ, cerita menjadi sebuah flash back, di mana dulu, “Aku” dan ayah, yang guru, berjuang memanggul senjata dengan bergerilya melawan penjajah.Pengorbanan atas perjuangan itu mengakibatkan derita yang panjang akibat revolusi pasca kemerdekaan. Hidup keluarga “Aku” tetap miskin. Bahkan untuk perawatan Ayah pun tidak ada asuransi sama sekali akhirnya ayah meninggal.Novel ini sesungguhnya berkisah tentang sebuah keluarga nasionalis yang menderita setelah kemerdekaan yang dulu mereka perjuangkan. Jadi, sebuah ironi sebuah potret muram keluarga Indonesia.Membaca novel yang setingnya berdurasi satu bulan ini, kita seperti membaca sebuah novel otobiografis, dimana cerita digarap secara sistematis, didukung oleh nama tempat, latar kejadian, dan waktu yang nyata.A. Tew menyatakan dalam bukunya Citra Manusia Indonesia dalam karya sastra Pramodya Ananta Toer, bahwa membaca karya Pram harus pula secara intertekstual. Artinya, apapun yang ditulis Pram sepanjang itu sebuah cerita, harus dipahami lahir dari imajinasi. Cerita yang dibuat Pram adalah fiksi, meskipun didukung tempat dan waktu yang nyata.Dengan gaya bahasa yang cerdas dan cerita yang evokatif, Pram mengemas Bukan Pasar Malam menjadi sebuah novel yang religius, namun aneh, mistis, dan mengajak pembaca untuk berkomtemplasi yang merupakan keunikan tersendiri dibanding karya Pram lainnya, semisal novel Bumi Manusia.Dialog-dialog dalam novel ini tidak disajikan berdasar kesengajaan atau dibuat-buat, tetapi memang untuk menyampaikan suatu informasi. Dialog tokoh-tokoh dalam novel ini menyentuh, menggugah, dan penuh dengan renungan. Semisal dialog semacam ini : “Lima belas – dua puluh kilometer bukan pekerjaan yang berat bagi seorang guru. Yang berat adalah menelan pahit getirnya kesalahan-kesalahan pendidikan orang tua si murid (hal. 48). Ini merupakan dialog “Aku” dengan tetangganya yang tahu bagaimana perjuangan ayah dulu.Arti harfiah “pasar malam” yang menjadi judul novel ini menunjuk pada hiruk pikuk yang merupakan suasana pasar, suasana senang-senang, suasana bahagia, di mana semua orang datang dan pergi bersama-sama (hal.89). Kalimat ini kita temukan pada bagian akhir novel melalui dialog seorang Tiaongha dan para tetangga yang datang melayat saat Ayah meninggal.Dan agaknya ini merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang, yaitu bahwa hidup memang bukan pasar malam : seorang demi seorang datang (lahir) dan seorang demi seorang pergi (mati). Dan pasar merujuk pada makna pluralitas, tempat bertemu setiap orang demi golongan apa pun.

Posted By Pak3Haryanto12:08 AM

Thursday, July 17, 2014

Cara Menulis Daftar Pustaka

Ada beberapa kawan yang sering menanyakan bagaimana menulis daftar pustaka yang benar. Penulisan daftar pustaka sebenarnya ada beberapa cara. 

Pada kesempatan ini saya tuliskan salah satu cara penulisan daftar pustaka yang lazim digunakan.


1. Daftar Pustaka dari Buku
Format penulisan daftar pustaka dari buku:
Nama belakang penulis, nama depan. Tahun terbit buku. Judul buku(dicetak miring). Kota terbit buku: Penerbit buku

Contoh:
a) Jika penulisnya 1 orang
  • Eneste, Pamusuk. 2009. Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama ----> Nama penulisnya adalah Pamusuk Eneste
  • Sugihastuti. 2009. Editor Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Chaer, Abdul. 2003. Linguitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta ----> Nama penulisnya adalah Abdul Chaer
  • Moleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke-21. Bandung: Remaja Rosdakarya
b) JIka penulisnya 2 orang
  • Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2009. Analisis Wacana Pragmatik Kajian: Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka ----> Nama penulisnya adalah I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi
c) Jika penulisnya lebih dari 3 orang
  • Zaini Hisyam, dkk. 2002. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga 
  • Rohmadi, Muhammad, dkk. 2009. Morfologi: Telaah Morfem dan Kata. Surakarta: Yuma Pustaka
d) Jika menggunakan editor (biasanya nama editor diikuti kata (ed)dibelakangnya)
  • Singaeimbun, Masri dan Sofyan Efendi (Ed.). 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES
  • Rohmadi, Muhammad dan Lili Hartono (Ed.). 2011. Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Teori dan Pembelajarannya. Surakarta : Pelangi Press. 
e) Jika penulisnya merupakan sebuah tim atau lembaga
  • Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 
  • Departemen Kesehatan. 2000. Survei Kesehatan Rumah Tangga. Jakarta: Depkes
f) Jika buku terjemahan
  • Muhammad, Asyraf. Rajulu A'malin Islamiyyin. (Diterjemahkan oleh Budiman Mustofa). 2009. Menjadi Entrepreneur Muslim Tahan Banting. Surakarta: Al-Jadid
2. Daftar Pustaka dari Penelitian (Skripsi, Tesis, Disertasi)
Format penulisan daftar pustaka dari hasil penelitian:
Nama belakang penulis, nama depan. Tahun publikasi penelitian. Judul buku (diapit tanda petik). (Jenis penelitian dan Program Studi Penelitian). Kota Instansi Pendidikan: Nama Instansi Pendidkan

Contoh:
  • Irnianty, Evi. 2010. “Analisis Bahasa Plesetan dalam Serial Komedi Tawa Sutra Edisi Mei 2009 Pukul 21.00 – 22.00 di ANTV”. (Skripsi S-1 Progdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Yogyakarta: FKIP Universitas Ahmad Dahlan 
  • Mulyani, Tri Wanti. 2010. “Analisis Tindak Tutur pada Wacana Stiker Plesetan”. (Skripsi S-1 Progdi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah). Surakarta: FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Purwanti. 2006. “Analisis Wacana Plesetan pada Kaos Dagadu Djokdja (Kajian Pragmatik)”. (Skripsi S-1 Progdi Pendidikan Bahasa dan Seni). Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret

3. Daftar Pustaka dari Jurnal Ilmiah
Format penulisan daftar pustaka dari jurnal ilmiah:
Nama belakang penulis, nama depan. Tahun penelitian. Judul Penelitain (diapit tanda petik). dalam Nama Jurnal (dicetak miring). Edisi Jurnal

Contoh:
  • Sibarani, Robert. 2003. “Fenomena Bahasa Plesetan dalam Bahasa Indonesia” dalam Linguistik Indonesia: Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia. Agustus, Nomor 2, 2003
  • Fathurrahman, Muhammad. 2000. “Mutiara Keong dalam Siklus Kehidupan” dalam Surya Seni Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni. Vol. 1, No. 2. Surakarta: STSI
  • Heriawati, Hesti. 2004. “Metafora dalam Cakepan Tembang-tembang Jawa” dalam Gelar: Jurnal Ilmu dan Seni. Vol. 2, No. 2. Surakarta: STS

4. Daftar Pustaka dari Majalah atau Koran
Contoh:
  • Santoso, Sukrisno. 2012. “kartini Masa Kini” dalam Solopos. Edisi 21 April 2012
  • Santoso, Sukrisno. 2011. “Pendidikan yang Membebaskan” dalamFigur. Edisi 8 September 2011
4. Daftar Pustaka dari Internet
Contoh:
  • Santoso, Sukrisno. 2012. “Metode Penelitian Bahasa: Metode Agih, Teknik Dasar dan Lanjutan” (online tanggal 20 April 2012, http://www.sastra33.co.cc/2012/04/metode-penelitian-bahasa-metode-agih.html)
 Semoga bermanfaat...

Posted By Pak3Haryanto4:43 PM

Monday, June 30, 2014

Ketrampilan Menulis

I. HAKIKAT MENULIS

Konsep Menulis
Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat unsur, yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, medium tulisan, serta pembaca sebagai penerima pesan. Kegiatan menulis sebagai sebuah perilaku berbahasa memiliki fungsi dan tujuan: personal, interaksional, informatif, instrumental, heuristik, dan estetis.
Sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa, menulis atau mengarang merupakan kegiatan yang kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan untuk menata dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis, serta menyajikannya dalam ragam bahasa tulis dan kaidah penulisan lainnya. Akan tetapi, di balik kerumitannya, menulis menjanjikan manfaat yang begitu besar dalam membantu pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, kepercayaan diri dan keberanian, serta kebiasaan dan kemampuan dalam menemukan, mengumpulkan, mengolah, dan menata informasi.
Sayangnya, tidak banyak orang yang suka menulis. Di antara penyebabnya ialah karena orang merasa tidak berbakat serta tidak tahu bagaimana dan untuk apa menulis. Alasan itu sebenarnya tak terlepas dari pengalaman belajar yang dialaminya di sekolah. Lemahnya guru, kurangnya model, dan kekeliruan dalam belajar menulis yang melahirkan mitos-mitos tentang menulis, memperparah keengganan orang untuk menulis.
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa tak dapat dilepaskan dari aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi. Pengalaman dan masukan yang diperoleh dari menyimak, berbicara, dan membaca, akan memberikan kontribusi berharga dalam menulis. Begitu pula sebaliknya, apa yang diperoleh dari menulis akan berpengaruh pula terhadap ketiga corak kemampuan berbahasa lainnya. Namun demikian, menulis memiliki karakter khas yang membedakannya dari yang lainnya. Sifat aktif, produktif, dan tulis dalam menulis, memberikannya ciri khusus dalam hal kecaraan, medium, dan ragam bahasa yang digunakannya.

Menulis sebagai Proses
Banyak pendapat yang berkaitan dengan belajar-mengajar menulis atau mengarang, seperti yang diungkapkan oleh pendekatan formal, pendekatan gramatikal, pendekatan frekuensi, dan pendekatan koreksi. Pendekatan-pendekatan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi sayangnya tidak menyentuh proses menulisnya itu sendiri. 
Sebagai proses, menulis melibatkan serangkaian kegiatan yang terdiri atas tahap prapenulisan, penulisan, dan pascapenulisan. Fase prapenulisan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan sebuah tulisan. Di dalamnya terdiri dari kegiatan memilih topik, tujuan, dan sasaran karangan, mengumpulkan bahan, serta menyusun kerangka karangan. Berdasarkan kerangka karangan kemudian dilakukan pengembangan butir demi butir atau ide demi ide ke dalam sebuah tulisan yang runtut, logis, dan enak dibaca. Itulah fase penulisan. Selanjutnya, ketika buram (draf) karangan selesai, dilakukan penyuntingan dan perbaikan. Itulah fase pascapenulisan, yang mungkin dilakukan berkali-kali untuk memperoleh sebuah karangan yang sesuai dengan harapan penulisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Barrs, M. (1983). The New Ortodoxy about Writing: Confusing Process and Pedagogy. Dalam Language Arts, 60, 7, hal. 839.

Connors, R. dan Glen, C. (1992). The St. Martin’s Guide to Teaching Writing. Edisi II. New York: St Martin’s Press.

Cunningham, P.M., dkk. (1995). Reading and Writing in The Elementary Classroom: Strategies and Observations. Edisi III. New York: Longman.

Goodman, K.S., dkk. (1987). Language Thinking in School: A Whole Language Curriculum. New York: Richard C. Owens.

Graves, D.H. (1978). Balance the Basic: Let Them Write. New York: Ford Foundation.

Keraf, G. (1984). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran. Ende-Flores: Nusa Indah.

McMahan, E., Day, S., dan Funk, R. (1993). Literature and the Writing Process. New York: McMillan.

Moeliono, A.M. (1989). Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta: Gramedia.

Proet, J. Dan Gill, K. (1986). The Writing Process in Action: A Handbook for Teachers. Illinois: NCTE.

Smith, F. (1981). Myths of Writing. Dalam Language Arts, 58, 7, hal. 792-798.

Tarigan, H.G. (1986). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Templeton, S. (1981). Teaching the Integrated Language Arts. New Jersey: Houghton Mifflin.

Tompkins, G.E. dan Hoskisson, K. (1995). Language Arts: Content and Teaching Strategies. Ohio: Prentice Hall.



II. JENIS-JENIS TULISAN
Surat
Kata ‘surat’ berarti kertas yang ditulis atau dengan kata lain surat adalah kertas yang berisi tulisan. Jika kita berbicara tentang tulisan maka kaitannya adalah dengan bahasa. Bahasa pada hakikatnya adalah alat komunikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang membuat atau menulis surat dengan tujuan mengomunikasikan sesuatu kepada orang lain. Secara garis besar surat dapat dikelompokkan menjadi surat pribadi, surat dinas, dan surat yang dibuat untuk kepentingan sosial.
Surat lamaran sebenarnya merupakan salah satu surat pribadi hanya surat ini memiliki tujuan khusus yaitu untuk memperoleh suatu pekerjaan. Surat dinas merupakan surat resmi yang digunakan oleh suatu instansi untuk kepentingan administrasi baik pemerintahan maupun swasta. Dari segi bahasa surat dinas memiliki empat ciri yakni (a) bahasa yang jelas artinya, bahasa yang digunakan tidak memberikan peluang untuk ditafsirkan secara berbeda oleh si penerima surat; (b) bahasa yang lugas dan singkat artinya, bahasa yang digunakan langsung tertuju pada persoalan yang ingin dikemukakan sehingga tidak berbelit-belit; (c) ba-hasa yang santun artinya, bahasa yang digunakan menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang wajar kepada si penerima surat; (d) ba-hasa yang resmi artinya, bahasa yang digunakan mengikuti kaidah baku bahasa Indonesia yang tercermin dari pilihan kata, ejaan, dan struktur kalimat yang digunakan. Surat niaga merupakan salah satu jenis surat dinas, tepatnya surat dinas yang digunakan dalam instansi swasta yaitu pada perusahaan-perusahaan atau badan usaha.

Pengumuman dan Iklan
Iklan setidaknya memiliki dua pengertian. Pertama, iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Kedua, iklan adalah pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, di pasang di media massa, seperti di surat kabar dan majalah, atau di tempat-tempat umum. 
Elemen-elemen yang terdapat dalam iklan, menurut Freud D. White, terdiri atas tiga hal yang berfungsi saling menguatkan, yakni tema, ilustrasi, serta naskah dan logo. Sebagaimana dalam wacana, tema memiliki peran yang strategis dalam menyuarakan isi pesan sekaligus menampilkan daya tarik terhadap suatu kepentingan dasar pembaca setelah menyajikan pesan sumber.
 
Terdapat beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi agar sebuah iklan dapat menarik pembaca atau calon konsumen yaitu, berbentuk pemberitahuan tentang barang dan jasa; menggunakan metode yang dapat memotivasi; dipasang pada media yang sesuai; menggunakan bahasa yang persuasif dan ilustrasi yang menarik.

Naskah
Kata naskah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai (1) karangan yang masih ditulis tangan; (2) karangan seseorang yang belum diterbitkan; (3) bahan-bahan berita yang siap untuk diset; (4) ran-cangan. 
Naskah dapat berupa karya sastra yang masih dalam tulisan tangan, dalam hal ini adalah karya-karya sastra lama. Karya-karya sastra lama sebelum abad 19 pada umumnya ditulis tangan dengan menggunakan wadah daun lontar dan sejenisnya, kulit kayu, dan kulit binatang yang dipilih dan memiliki ketahanan bila disimpan dalam waktu yang cukup lama. Setelah kertas datang dan para penulis mengenal kertas sebagai wadah tulisan, baru kemudian para sastrawan menuliskan karya-karyanya di atas kertas.
 
Selain pada sastra lama, digunakan pula istilah naskah pada satu genre sastra yaitu drama. Naskah drama digunakan sebagai bahan latihan sebuah kelompok teater. Sejenis dengan naskah drama terdapat naskah film, sinetron, dan televisi yang fungsinya sama dengan naskah drama.
 
Pengertian lain mengatakan bahwa naskah adalah karangan yang belum diterbitkan. Contoh untuk memahami definisi ini adalah bahan sebuah buku yang masih dalam proses untuk diterbitkan. Artinya, bahan buku tersebut masih ditelaah, diedit atau disunting. Bahan buku yang masih dalam proses ini (pengolahan) disebut juga naskah.
 
Jenis naskah yang lain adalah naskah berita. Naskah berita berisi informasi yang akan disusun menjadi berita yang akan diterbitkan di surat kabar. Masih berkaitan dengan informasi yang ditulis dan bertujuan untuk diberitahukan kepada khalayak, baik secara tertulis yang berupa selebaran, maupun secara lisan yang berupa ceramah atau pidato juga disebut sebagai naskah. Jenis naskah seperti ini disebut sebagai naskah pengumuman dan naskah pidato.

Karangan
Karangan Ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan, yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis dan sintesis-analitis. Sebagai sebuah tulisan ilmiah, karangan ini memiliki ciri-ciri yang harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif); bersifat metodis dan sistematis; dan dalam pembahasannya menggunakan ragam bahasa ilmiah. Agar suatu karangan mampu memiliki ciri keilmiahannya, karangan jenis ini menuntut adanya persyaratan material, yang di dalamnya mencakup adanya topik yang dibicarakan, tema yang menjadi tujuan/sasaran penulisan, alinea yang merangkaikan pokok-pokok pembicaraan, serta kalimat-kalimat yang mengungkapkan dan mengembangkan pokok-pokok pembicaraan; serta persyaratan formal, yang di dalamnya mencakup tata bentuk karangan, yaitu (1) preliminaries (halaman-halaman awal) yang meliputi judul, kata pengantar, aneka daftar (daftar isi, daftar tabel/bagan/lampiran); (2) main body (isi utama) yang meliputi pendahuluan, isi, dan penutup; (3) reference matter (halaman-halaman akhir) yang meliputi daftar pustaka, lampiran, dan biodata penulis.
Sementara itu, yang dimaksud Karangan semi-ilmiah adalah tulisan yang berisi informasi faktual, yang diungkapkan dengan bahasa semiformal, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering “dibumbui” dengan opini pengarang yang kadang-kadang subjektif. Atas dasar dua pengertian tersebut (ilmiah dan semi-ilmiah), maka yang disebut karangan nonilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada aturan yang baku. Beberapa contoh yang dapat disebut untuk memenuhi kriteria karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerita pendek, cerita bersambung, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti, Midar Arsad, dan Sakura Ridwan. (1999). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwi, Hasan, dkk. (1998). Tata Bahasa Baku Basa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka (Persero).

Behren, T.E. (2002). Hiasan Naskah Jawa. Jakarta: Buku Antarbangsa.

Depdiknas. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Harsana, F.X. (1983). Perkembangan Bahasa Indonesia. Surakarta: Tiga Serangkai.

http: 11,8.wilipedia.org/wili/Proklamasi-Kemerdekaan-Republik Indonesia.

Keraf, Gorys. (1995). Komposisi. Ende: Nusa Indah.

Khasanah, Venus. (2003). “Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Makalah Populer” dimuat dalam Jurnal MKU. Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial.

Kusumah, Encep. (2004). “Menulis Pengumuman dan Iklan” dalam BMP Menulis 2. Jakarta: Pusat Penerbitan UT.

Lumintaintang, Yayah B. (2001). “Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Keprotokoleran (Makalah)”. Jakarta: Pusat Bahasa.

Moeliono, Anton, M. (Ed). (1988). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.

Prakoso, Teguh. (2006). “Pemaknaan Novel Bekisar Merah dan Belantik dengan Teori Strukturalisme Levi-Strauss dan Hermeneutika Geertz”. UGM: Sekolah Pascasarjana.

_____________. (2006). “Ketika Embun Tidak Lagi Menetes (Cerpen)”. Tidak diterbitkan.
 
“Laboratorium Fak. Psikologi UHT: Lengkap dan Unggul” dalam Seputar Indonesia, 26 Januari 2006, hlm. 20.

www.wisatanet.review.phd?kode12id=33.

www.wisatanet.com/travel-review.phd?kode:1&id=33

Yunus, M. (2002). “Surat Menyurat Dinas” dalam Keterampilan Dasar Menulis Modul. Jakarta: Pusat Penerbitan UT.




III. PERENCANAAN KARANGAN
Perencanaan Karangan
Perencanaan disusun sebelum suatu kegiatan dilakukan atau merupakan suatu persiapan. Perencanaan karangan tidak ubahnya seperti perencanaan dalam kegiatan-kegiatan yang lain. Tujuan dibuatnya sebuah rencana adalah untuk mencapai hasil dari suatu kegiatan secara maksimal. Dalam kegiatan menulis perencana karangan tergolong ke dalam tahap prapenulisan. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan merumuskan tujuan karangan, menentukan topik dan sub-subtopik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka karangan. 
Topik karangan adalah hal yang menjadi bahan pembicaraan dalam sebuah tulisan. Topik karangan harus bermanfaat, layak dibahas, menarik, dikenal baik, bahan mudah didapati, tidak terlalu luas, dan terlalu sempit. Topik yang terlalu luas dapat dibatasi dengan 3 cara yaitu dengan menggunakan diagram jam, diagram pohon, dan piramida terbalik. Syarat menentukan topik adalah menguasai materi yang akan dibahas atau ditulis. Jika topik dikuasai, sub-subtopik akan mudah ditentukan.
Menentukan tujuan karangan penting dilakukan penulis untuk menentukan bentuk karangan (ilmiah, nonilmiah atau sastra, nonsastra) dan tingkat kerincian karangan. Menentukan sasaran karangan sangat diperlukan untuk menentukan diksi dan cara penyajian yang tepat sesuai dengan status sosial, jenjang pendidikan, dan tingkat kemampuan yang dimiliki pembacanya. Hal ini dilakukan agar apa yang kita tulis dapat dipahami oleh pembacanya.
 
Sebelum kita menulis, kita harus mencari, mengumpulkan, dan memilih bahan-bahan atau informasi yang relevan dengan topik yang akan kita bahas. Dengan informasi yang lengkap dan relevan maka akan memudahkan penulis dalam mengembangkan topik karangan. Selain itu, tulisan/karangan kaya akan informasi yang berhubungan dengan topik yang sedang kita bahas, pembahasan topik akan lebih mendalam dan luas, dan pembaca akan memperoleh informasi yang lengkap. Bahan-bahan atau informasi yang dibutuhkan penulis dapat berupa artikel, gambar/foto, hasil laporan penelitian/pengamatan, hasil wawancara, dan sebagainya.

Kerangka Karangan
Kerangka karangan menurut Akhadiah (1994: 25) merupakan suatu rencana kerja yang mengandung ketentuan-ketentuan tentang bagaimana kita menyusun karangan. Tidak berbeda jauh dengan Akhadiah, Finoza (2001: 179) juga mengungkapkan bahwa kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Sebuah karangan atau tulisan minimal menggunakan tiga bagian penting, yaitu pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan. Manfaat yang dapat Anda peroleh bila membuat kerangka karangan adalah sebagai berikut.
1. Membantu Anda melihat apa saja yang perlu disajikan dalam tulisan atau karangan.
2. Membantu Anda mengembangkan gagasan/ide lebih teratur, logis, dan terfokus.
3. Membantu Anda mencegah pengulangan paparan ide.
4. Membantu Anda memaparkan data lebih lengkap.
 

Jenis kerangka karangan berdasarkan cara mengungkapkan pokok-pokok pembicaraan ke dalam kerangka karangan terbagi atas dua jenis, yaitu kerangka topik dan kerangka kalimat. Pada kerangka topik, pokok pembicaraan diungkapkan dengan menggunakan kata atau kelompok kata. Pada kerangka kalimat, pokok pembicaraan diungkapkan dengan menggunakan kalimat hal-hal yang harus diperhatikan ketika akan membuat kerangka karangan adalah sebagai berikut.
1. Penyusunan kerangka karangan harus sesuai dengan topik yang telah Anda pilih.
2. Penyusunan kerangka karangan harus sistematis dan logis.
 
3. Penyusunan kerangka karangan untuk mempermudah penyusunan karangan.

Untuk memperoleh kerangka karangan yang tersusun secara sistematis dan logis, hendaklah ditempuh beberapa langkah kegiatan berikut ini.
1. Pengumpulan ide
2. Penyaringan ide dan penyempurnaan ide
3. Pengelompokan ide
4. penyusunan urutan ide

Kerangka karangan dapat dibentuk dengan sistem tanda atau kode tertentu berupa huruf dan angka. Tanda-tanda yang dipakai harus ada pasangannya (minimal satu pasangan) dan Penggunaan pasangan tanda harus konsisten. Kerangka karangan berdasarkan cara mengungkapkan pokok-pokok pembicaraan ke dalam kerangka karangan terbagi atas dua jenis, yaitu kerangka topik dan kerangka kalimat. Kerangka kalimat merumuskan setiap topik, subtopik, maupun sub-subtopik memperguna-kan kalimat berita yang lengkap. Kerangka topik mengungkapkan pokok pembicaraan dengan menggunakan kata atau kelompok kata (frase).
 
Untuk menilai sebuah kerangka karangan, Anda harus memperhati-kan syarat-syarat kerangka karangan yang baik, yaitu:
1. pengungkapan maksud harus jelas;
2. tiap subpokok bahasan dalam kerangka karangan mengandung satu gagasan;
3. pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis;
4. harus mempergunakan pasangan tanda yang konsisten.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti, dkk. (1994). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Finoza, Lamuddin. (2001). Komposisi Bahasa Indonesia: untuk Mahasiswa Non Jurusan Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

Keraf, Gorys. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.

Oka, I. Gusti Ngurah. (1990). Retorika Kiat Bertutur. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang.

Yunus, M. (2003). Menulis dan Penalaran dalam Keterampilan Dasar Menulis (Modul). Jakarta: Universitas Terbuka.




IV. DIKSI, EJAAN, DAN TANDA BACA 

Diksi
Diksi adalah pilihan kata. Diksi sangat penting dalam berkomuni-kasi secara lisan ataupun tulisan. Dalam komunikasi lisan, diksi sangat besar pengaruhnya dalam menyampaikan bahasa yang membuat orang mengerti dan tidak tersinggung..
Dalam bahasa tulis, seperti dunia karang-mengarang, diksi juga merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini Glenn R. Capp dan Richard Capp Jr dalam Rahmat (1999: 47) memberikan kriteria kata yang baik adalah kata yang memiliki kejelasan, ketepatan, dan kemenarikan.
Hal yang membuat diksi perlu diterapkan dengan baik adalah karena diksi mempengaruhi alunan bahasa. Ini juga biasanya terkandung dalam pemakaian Gaya Bahasa dan Idiom.
Pemakaian gaya bahasa adalah cara memilih kata yang bertujuan mengungkapkan makna agar memperoleh efek kuat, mendalam, dan hidup, karena melalui gaya bahasalah maksud penutur tersampaikan. Ada beberapa cara penutur menyampaikan gaya bahasa yang biasa disebut majas yaitu:
 
1. majas persamaan atau simile;
2. majas perumpamaan;
3. majas metafor;
4. majas metonomia;
5. majas personifikasi;
6. majas litotes;
7. majas hiperbol.

Sedangkan idiom biasanya akan berhubungan dengan makna-makna bahasa yang kita pilih yang di dalamnya menyangkut makna konotatif dan denotatif. Makna sinonim, homonim dan polisemi.

Ejaan dan Tanda Baca
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 285), kata eja adalah kata yang hampir tidak pernah berdiri sendiri. Pemakaian kata eja sering didahului dengan imbuhan me- menjadi mengeja yang artinya melafalkan, (menyebutkan) huruf-huruf satu demi satu atau digabung dengan akhiran –an menjadi ejaan yang artinya kaidah-kaidah, cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.
Menurut Arifin dan Tasai (2000: 25), ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar-hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan pengga-bungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan tanda baca.
Jadi, ejaan adalah aturan yang dipergunakan dalam tulisan (tatatulis) yang meliputi: 1) penulisan huruf, 2) penulisan kata, 3) penulisan unsur serapan dan 4) penulisan tanda baca.
Ejaan yang pernah digunakan dalam Bahasa Indonesia dari dulu hingga sekarang yang paling menonjol ada 3 macam. Pertama, Ejaan Van Ophuisjen yang diresmikan tahun 1901. Ejaan Van Ophuisjen berciri menggunakan dua lambang untuk satu bunyi yaitu huruf (oe) untuk (u) dan lambang koma (’) untuk (k) ain, hamzah dan tanda (trema) untuk beberapa kata yang berasal dari bahasa Arab. Kedua, Ejaan Soewandi yang diresmikan 19 Maret 1947 yang menetapkan perubahan (oe) menjadi u, dan diberlakukannya angka dua (2) untuk kata menyatakan kata berulang (kata ulang). Ketiga, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang diberlakukan mulai 16 Agustus 1972 dengan pijakan dasarnya mengatur penulisan ejaan dalam 4 hal, yaitu:
1) penulisan huruf,
 
2) penulisan kata,
 
3) penulisan unsur serapan dan
4) penulisan tanda baca.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal, Drs. dan Tasai S. Amran. (2003). Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.

Badudu, J. S. (1989). Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.

Chaer, Abdul. (1993). Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1988). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Pusat Bahasa, Depdiknas (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

_____________________ (1997) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.

_____________________ (1993) Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Balai Pustaka.

_____________________ (2003). Pengindonesiaan Kata-kata Asing. Jakarta: Pusat Bahasa

Tim Penulis Bahasa Indonesia UT-ASMI. (2004). Buku Materi Pokok Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.




V. KALIMAT EFEKTIF
Pengertian dan Syarat-syarat Kalimat Efektif
Kalimat efektif dapat diartikan sebagai kalimat yang penggunaannya dapat berhasil guna atau dapat mencapai sasaran yang dituju. dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang mampu memberikan makna pada pembacanya, persis seperti apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Kalimat dapat menjadi efektif jika memperhatikan beberapa persyaratan yaitu kebenaran struktur, kelogisan, kehematan, dan ketidaktaksaan. Di samping itu kalimat akan menjadi sangat baik jika memenuhi ketentuan (1) kesejajaran bentuk, (2) penekanan, dan (3) kevariasian.
Penyusunan Kalimat Efektif
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun kalimat efektif di antaranya adalah, kata penghubung intrakalimat dan antarkalimat, kemudian gagasan pokok dalam sebuah kalimat, penggabungan yang menyatakan sebab dan waktu, penggabungan kata ”dengan”, ”yang”, ”dan”, penggabungan kalimat yang menyatakan hubungan akibat dan hubungan tujuan. Selain itu untuk mencapai efektivitas dan memberikan nuansa yang menarik pembaca, pada sebuah kalimat terdapat variasi-variasi. Variasi tersebut di antaranya adalah, subjek pada awal kalimat, kata modal pada awal kalimat, frase pada awal kalimat, jumlah kalimat dan jenis kalimat.DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti., Maidar G. Arsjad, Sakura H. Ridwan. (1994). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1991). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Razak, Abdul. (1985). Kalimat Efektif : Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta:
Gramedia.

Soedjito. (1990). Kosakata Bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia.




VI. MENULIS SURAT DAN IKLAN
Surat Resmi
Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk menyam-paikan suatu pesan dari satu pihak (perorangan, kelompok, atau organisasi) kepada pihak lain. Jenis surat itu sangatlah banyak. Sebagai salah satu sarana bentuk komunikasi tertulis, surat terdiri atas unsur pengirim surat, penerima, pesan (isi surat), dan saluran. Ketersampaian pesan surat akan dipengaruhi oleh keefektifan bahasa, kelogisan dan keruntutan organisasi surat, kejelasan isi, dan kesesuaian format surat yang digunakan.
Surat memiliki sejumlah fungsi. Di antara fungsi surat ialah sebagai wakil pribadi, kelompok, atau organisasi; dasar atau pedoman kerja; bukti tertulis yang otentik; arsip atau alat pengingat; dan dokumen historis. Mengingat berbagai fungsi yang dimiliki surat, maka surat dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Klasifikasi jenis surat didasar-kan atas kepentingan dan asal pengirimnya, isi sifat, banyaknya sasaran, tingkat kepentingan penyelesaiannya, wujud, dan ruang lingkup sasarannya.
Berbeda dengan bentuk karangan lainnya, surat memiliki karak-teristik yang sangat khusus. Salah satu kekhasan surat terletak pada bagian-bagiannya. Bagian-bagian ini memiliki kegunaan tertentu. Penataan bagian dan unsur surat tergantung pada format atau bentuk surat yang digunakan. Namun demikian, sebuah organisasi baik pemerintahan, perusahaan, maupun sosial politik, biasanya memiliki format baku yang digunakan dalam organisasi tersebut.

Iklan
Iklan adalah salah bentuk penyebaran informasi mengenai suatu produk berupa barang, jasa, atau gagasan, kepada khalayak calon pembeli atau pengguna produk tersebut. Keberadaan iklan bertujuan untuk mengenalkan, memberikan informasi, dan mempengaruhi keputusan khalayak untuk membeli dan menggunakan produk yang diiklankan. Agar penyampaian iklan dapat mencapai sasarannya, maka pengemasan dan penyajian iklan harus mempertimbangkan sejumlah faktor di antaranya sasaran, media, tempat, dan daya pemikat yang diusung oleh sebuah iklan.
Pemasangan iklan itu sendiri dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (langsung atau tidak langsung) dan dengan berbagai media (elektronik atau cetak). Pilihan bentuk dan media beriklan akan mempengaruhi cara saji iklan itu sendiri serta biaya yang dikeluarkan. Semakin canggih media yang digunakan, biasanya semakin mahal pula biaya yang dibutuhkan dan semakin tinggi pula kreativitas yang dituntut untuk membuat sebuah iklan.
Iklan dapat dipasang melalui berbagai media yaitu media cetak, elektronik, ragaan, dan udara. Media cetak dapat berupa koran (surat kabar), tabloid, buletin, dan majalah. Media elektronik dapat melalui radio dan televisi, atau film (layar lebar). Media ragaan dapat menggunakan kaos (pakaian), bus, atau papan di tempat umum. Media udara dapat menggunakan pesawat terbang dan balon udara.
Terdapat beberapa kriteria yang harus diperhatikan pembuat iklan. Kriteria ini dapat dikatakan sebagai persyaratan membuat iklan yakni berkenaan dengan etika. Etika beriklan agar iklan tidak hanya dikatakan baik dari segi bisnis tetapi juga baik dari sisi penggunaan bahasa dan bersosialisasi. Etika tersebut adalah mematuhi kaidah-kaidah bahasa, bersaing secara positif, dan tidak mendustai konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z. (1990). Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Surat Dinas. Edisi Revisi II. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.

Belch, G.E. dan Belch, M.A. (1998). Advertising and Promoting: An Integrated Marketing Communication. Edisi IV. Boston, Ma: Irwin McGraw-Hill.

Biro Tata Usaha. (1995). Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 091/U/1995 tentang Pedoman Tata Persuratan di Lingkungan Depdikbud. Jakarta: Depdikbud.

Bratawidjaya, Th. W. (1991). Surat Bisnis Modern. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
 

Finoza, L. (1991). Aneka Surat Sekretaris dan Surat Bisnis Indonesia. Jakarta: Usaha Mulia.

http://daxell.net/panong/service-balon-udara-promosi.htm

Jefkins, F. (1996). Periklanan. Edisi III. Jakarta: Erlangga.

Lowe, B.W. (1996). Seni Menggunakan dan Meningkatkan Periklanan yang Efektif (Clever Advertising). Jakarta: Elex Media Komputindo.

Mcrimmon, J.M., Trimmer, J.F., dan Sommers, N.I. (1984). Writing with a Purpose. Boston, Ma: Houghton Mifflin.

Ogilvy, D. .... Pengakuan Orang Iklan. Jakarta: Pustaka Tangga.

Marjo, Y.S. (2000). Surat-surat Lengkap untuk Berbagai Keperluan. Jakarta: Setia Kawan.

Sudiana, D. (1986). Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung: Remadja Karya.
 




VII. PARAGRAF DAN NASKAH PIDATO
Paragraf
Paragraf adalah satuan bagian karangan yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah gagasan dalam bentuk untaian kalimat. Ada dua hal kegunaan dari paragraf. Pertama, kegunaan paragraf yang terpenting adalah untuk memberi tanda adanya topik baru atau pengembangan topik lanjutan dari topik sebelumnya pada sebuah karangan. Dan kedua, adalah untuk menambahkan hal-hal yang penting atau untuk merinci atau menjelaskan apa yang sudah dibicarakan dalam paragraf sebelumnya.
Syarat-syarat Paragraf
a Syarat kesatuan
b Syarat pengembangan
c Syarat koherensi
d Syarat kohesi

Berdasarkan tujuannya, paragraf dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Paragraf pembuka
b. Paragraf penghubung
c. Paragraf penutup

Jenis-jenis Paragraf
a. Deskripsi adalah jenis paragraf yang melukiskan atau menggambar sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya.
b. Narasi adalah jenis paragraf yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa.
 
c. Eksposisi adalah jenis paragraf yang berusaha untuk menerangkan, menguraikan, atau menyampaikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya.
 
d. Argumentasi adalah jenis paragraf yang berusaha untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan penulisnya.
 
e. Persuasi adalah jenis paragraf yang ditujukan untuk memengaruhi pendapat dan sikap pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisnya.

Naskah Pidato
Pidato tidak hanya dapat diucapkan langsung oleh orang yang berpidato tetapi bisa juga dilakukan dengan membacakan naskah. Pembacaan tersebut bisa dilakukan oleh si pelaku tetapi dapat juga diwakilkan. Untuk keperluan tersebut maka diperlukan naskah pidato. 
Oleh karena itu, agar pidato tertulis tersebut dapat mencapai tujuannya hendaknya tulisan tersebut mampu membuat pendengarnya:
1. menarik dan membangkitkan minat
2. mendapatkan pengetahuan dan pengertian
 
Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat membuat naskah pidato
1. gunakan tipe huruf lebih besar dari ukuran 12
2. gunakan huruf besar dan huruf kecil, karena Anda melihat kata-kata dengan naik dan turun (huruf h dan l bagian atas berada di atas baris, huruf p dan y bagian bawah berada di bawah baris).
3. gunakan spasi ganda sebagai pengingat untuk penghentian lebih lama
4. Jangan pisahkan kata-kata dengan tanda hubung di akhir baris.
5. gunakan hanya dua pertiga halaman bagian atas untuk menghindari penampilan yang kedodoran
6. beri nomor halaman pada bagian sudut kanan atas sehingga Anda dapat melihatnya secara cepat bila diperlukan
7. akhiri tiap halaman dengan kalimat lengkap, dan paragraf lengkap jika memungkinkan.

Berdasarkan sifatnya, pidato dibagi menjadi dua macam:
1. Pidato resmi
2. Pidato tidak resmi

DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, S., Arsyad, G. M., dan Ridwan, S. H. (1999). Pembinaan Kemampuan Menulis bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Keraf, G. (1981). Eksposisi dan Narasi. Ende-Flores: Nusa Indah.

……… (1982). Argumentasi dan Narasi.. Jakarta: Gramedia.

Kayam, Umar. (1975). Istriku, Madame Schkitz dan sang Raksasa dalam Sri Sumarah. Jakarta: Pustaka Jaya.

Tohari, Achmad. (2004). Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

----------------. (2005). Bekisar Merah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama




VIII. WACANA DESKRIPSI, NARASI, DAN EKSPOSISI
Pengembangan Wacana Deskripsi
Paragraf deskripsi adalah paragraf yang berusaha untuk memindah-kan kesan, hasil pengamatan, dan perasaannya kepada pembaca. Penulis berusaha untuk menyampaikan sifat dan semua rincian wujud yang ditemukan pada objek yang ditulis itu. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya khayal atau imajinasi kepada para pembacanya, sehingga seolah-olah pembaca melihat atau merasakan sendiri objek yang dibicarakan secara keseluruhan seperti yang dialami oleh penulisnya.
Berdasarkan tujuannya, deskripsi dibedakan menjadi dua yaitu, (1) deskripsi sugestif dan (2) deskripsi teknis (deskripsi ekspositoris), sedangkan berdasarkan cara pendekatannya agar objek yang digambar-kan dapat tepat maksudnya dibagi menjadi (1) pendekatan realistis, (2) pendekatan impresionistis, dan (3) pendekatan menurut sikap pengarang.
Berdasarkan kategori yang biasa diungkapkan, ada dua objek yang dapat kita deskripsikan, hal itu adalah deskripsi orang dan deskripsi tempat.
Untuk mempermudah melakukan pendeskripsian, berikut adalah rambu-rambu yang dapat Anda ikuti.
1. Menentukan hal apa yang hendak dideskripsikan.
2. Merumuskan tujuan pendeskripsian.
3. Menetapkan bagian yang akan dideskripsikan.
4. Merinci dan menyistematiskan hal-hal yang menunjang kekuatan bagian yang akan dideskripsikan.

Pengembangan Wacana Narasi
Narasi adalah wacana atau wacana yang mengisahkan atau menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dalam suatu rangkaian waktu.
Tujuan pengembangan wacana narasi adalah
 
1. ingin memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca, dan
 
2. ingin memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.
Kedua tujuan tersebut akan menghasilkan bentuk wacana narasi yang berbeda, yaitu narasi ekspositoris dan narasi ugesti
 
Perbedaan antara narasi ekspositoris dan narasi ugesti adalah sebagai berikut.
Narasi Sugestif
1. menyampaikan suatu makna atau suatu amanat yang tersirat.
2. menimbulkan daya khayal.
3. penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar.
4. bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan pada penggunaan kata-kata konotatif.
Narasi Ekspositoris
1. memperluas pengetahuan.
2. menyampaikan informasi faktual mengenai sesuatu kejadian.
3. didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional.
4. bahasanya lebih condong ke bahasa informatif dengan titik berat pada pemakaian kata-kata denotatif.

Komponen-komponen pembentuk prinsip dasar narasi sugesti adalah alur, penokohan, latar, dan sudut pandang.
Langkah-langkah praktis yang digunakan dalam mengembangkan wacana narasi.
1. Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
2. Tetapkan sasaran pembaca kita.
3. Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur
4. Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan dan akhir cerita.
5. Rinci peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
6. Susunlah tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.

Pengembangan Karangan Eksposisi
 
Wacana eksposisi adalah wacana yang berusaha untuk memaparkan, menerangkan, atau menginformasikan sesuatu hal yang berfungsi untuk memperluas pengetahuan, pandangan, atau wawasan pembacanya.
Wacana eksposisi dikembangkan dengan struktur: pendahuluan, tubuh wacana, dan penutup atau kesimpulan. Tiap-tiap bagian tersebut ditulis secara utuh sehingga apa yang ingin disampaikan dapat tertangkap oleh pembaca dengan mudah.
 
Langkah yang harus kita tempuh dalam membuat eksposisi adalah:
 
a. menentukan topik wacana,
 
b. menentukan tujuan penulisan, dan
 
c. merencanakan paparan dengan membuat kerangka yang lengkap dan tersusun secara baik

Teknik Pengembangan Eksposisi
1. Teknik Identifikasi
Sebuah teknik pengembangan eksposisi yang menyebutkan ciri-ciri atau unsur-unsur yang membentuk suatu hal atau objek sehingga pembaca dapat mengenal objek itu dengan tepat dan jelas.
2. Teknik Perbandingan
Teknik yang digunakan untuk mengungkapkan kesamaan-kesamaan atau perbedaan-perbedaan antara satu hal dengan hal yang lain. Dalam menyampaikan uraian dengan teknik perbandingan, hal yang harus kita perhatikan adalah tujuan penggunaannya. Teknik yang dapat digunakan untuk menyampaikan perbandingan adalah
a. Perbandingan Langsung
 
b. Analogi
 
c. Perbandingan Kemungkinan
 
3. Teknik ilustrasi
Teknik ini berusaha memberikan gambaran, contoh-contoh, atau penjelasan yang khusus atau nyata.
4. Teknik Klasifikasi
Teknik klasifikasi merupakan suatu metode untuk menempatkan barang-barang atau mengelompokkan bermacam-macam subjek dalam suatu sistem kelas.
5. Teknik Definisi
Definisi adalah penjelasan terhadap arti kata atau pengertian suatu kata, frasa atau kalimat.
6. Teknik Analisis
Teknik analisis merupakan cara memecahkan suatu pokok masalah. Teknik analisis dapat dibagi atas sebagai berikut.
a. Analisis Sebab-Akibat
b. Analisis Bagian
c. Analisis Fungsional
d. Analisis Proses
DAFTAR PUSTAKA
Hamdi, Hudri. (1992). ”Petaka Kampar” dalam Kado Istimewa, Buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas tahun 1992. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Kayam, Umar. (1995). Sri Sumarah. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

----------- (1999). Menjelang Lebaran dalam Derabat, Buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas tahun 1999. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Keraf, Gorys. (1982). Eksposisi dan Deskripsi, Komposisi Lanjutan II. Ende: Nusa indah.

Sunarsasi. (1997). Angsa Putih. Jilid 2. Jakarta: Samindra Utama.

Suparno. (2004). Deskripsi dan Narasi dalam Menulis 1. Jakarta: Universitas Terbuka.




IX. ARGUMENTASI DAN PERSUASI
Pengembangan Karangan Argumentasi
Argumentasi adalah karangan yang terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Isi karangan memuat tiga elemen utama yaitu pernyataan (claim), alasan (support/graound ) dan pembenaran (warrant ). Di samping itu ada juga elemen tambahan yaitu: pendukung (backing), modal (modal qualifiers) dan sanggahan (rebutta). Tujuannya ada bermacam-macam: 1) semata-mata untuk menyampaikan pandangan, 2) mendiskusikan suatu persoalan tanpa perlu mencapai suatu penyelesaian, 3) meng-usahakan suatu pemecahan masalah, 4) mengupayakan keyakinan pembaca agar menyetujui dan terpengaruh dengan alasan-alasan penulis.
Adapun yang termasuk ke dalam karangan argumentasi ini antara lain: makalah, paper, (seminar, simposium, dan lokakarya), esai, skripsi, tesis, disertasi, dan naskah tuntutan di pengadilan seperti: naskah pembelaan, pertanggungjawaban, dan surat keputusan. Semua macam karangan itu dikembangkan dengan menggunakan dua teknik pengembangan argumentasi yaitu teknik deduktif dan teknik induktif.

Pengembangan Karangan Persuasi
Persuasi adalah karangan yang isinya berusaha meyakinkan pembaca dengan menggunakan bahasa yang bernada membujuk. Istilah persuasi berasal dari bahasa Inggris persuasion diturunkan dari kata to persuade yang artinya membujuk atau meyakinkan. Secara prinsip pengertian persuasi dengan argumentasi hampir serupa. Keduanya sama-sama menggunakan argumen-argumen yang kuat dalam meyakinkan lawan bicara. Perbedaannya terletak pada penggunaan bahasa. Jika pada karangan argumentasi bahasa yang dipergunakan cukup menjelaskan pembuktian pembaca yang bertujuan pembaca meyakini. Pada karangan argumentasi, logika yang digunakan merupakan unsur utama. Diksi yang dipergunakan bertujuan mencari efek tanggapan penalaran. Pada karangan persuasi bahasa yang dipergunakan bermuatan penuh rayuan, daya ajuk, daya bujuk atau himbauan untuk membangkitkan pembaca tergiur dan bereaksi untuk ikut serta mengikuti keinginan penulis. Diksi yang dipergunakan bertujuan mencari efek tanggapan emosional. Hal inilah yang menimbulkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan penulis. 
Metode pengembangan karangan persuasi pada lazimnya adalah: rasionalisasi, identifikasi, sugesti, konformitas, penggantian dan proyeksi.
 
Alat pengembangan persuasi adalah 1) Bahasa, yang berfungsi seluas dan tajam sehingga sering berakibat terjadinya penipuan, kedengkian, percekcokan dan macam lainnya. 2) Nada yang digunakan seperti: marah, senang, sedih, dan bersemangat yang dapat dipergunakan seseorang sebagai alat untuk mempengaruhi perilaku orang banyak. 3) Detail esensial dalam yang mendukung tujuan sehingga memperjelas penalaran yang kita harapkan pendetailan dilakukan dengan cara menyeleksi seberapa penting detail itu dalam membantu pembaca memahami tulisan kita. 4) Organisasi yaitu pengaturan detail di dalam karangan kita itu agar keyakinan dan pandangan pembaca dapat berubah yang bisa ditempuh melalui cara induktif, cara deduktif dan cara penonjolan 5) Kewenangan menyangkut penerimaan dan kesadaran pembaca terhadap pengarang sebagai orang yang berwenang karena diyakini: a) mempunyai dasar hukum menduduki jabatan tertentu, b) ber-kecimpung dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan tertentu, c) mampu menunjukkan pola pikir yang bermutu.

Penilaian Karangan Argumentasi dan Persuasi
Topik yang diangkat menjadi karangan argumentasi karena memiliki 2 hal yaitu, bernilai dan tidak bernilai. Untuk membuat keyakinan pembaca pasti dan kokoh, sangat ditentukan oleh argumen atau alasan-alasan yang bukan hanya sesuai nalar dan mendukung, tetapi juga diterima akal (logis). Membangun keyakinan kuat bagi pembaca memerlukan prinsip-prinsip yang standar atau baku yaitu dengan menjawab pertanyaan berikut: 
Apakah pernyataan dapat diyakini kebenarannya oleh pembaca?
Apakah alasan menghadirkan bukti-bukti yang bersifat khusus yang diperlukan untuk mendukung pernyataan..
Apakah penarikan kesimpulan yang diambilnya sudah melalui proses nalar yang benar? Yang dimaksud adalah ungkapan bahasa (penanda linguistik yang digunakan). Seperti: (1) penanda kepastian seperti di antaranya penggunaan kata/frase perlu, pasti, dan tentu saja. Sedangkan (2) penanda kemungkinan. antara lain agaknya, kiranya, rupanya, kemungkinannya, sejauh bukti yang ada, sangat mungkin, mungkin sekali, dan masuk akal. Untuk karangan persuasi aspek yang dinilai adalah semua aspek yang ada pada argumentasi ditambah 5 hal berikut yaitu: Bahasa, Nada, Detail, Organisasi dan kewenangan
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah Sabarti (2001). Menulis 1. Jakarta: Universitas Terbuka.

George E. Wihon, Julia M. Burks. (1980). Let’s Write English Litton Educational Publishing International. New York. USA

Keraf Gorys. (2000). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

Kusumah Encep, dkk. (2002). Menulis 2. Jakarta: Universitas Terbuka.

Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran. (2001-2005). Abstrak. Bandung: Unpad.

Sirait Bistok, Editor. (1985). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suparmo dan Moh. Yunus. (2004). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

Suparno dan Martutik. (1997). Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tarigan Heiny Guntur. (1982). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Hernowo. (2001). Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.

Parera Jos Daniel. (1984). Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga

Widyamartaya. (1990). Seni Menuangkan Gagasan. Yogyakarta: Kanisius.

Universitas Padjadjaran. (2006). Abstrak 2001-2005. Bandung: Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Unpad.

Posted By Pak3Haryanto4:05 PM