Monday, February 3, 2014

Bahan Ajar

Filled under:


Posted By Pak3Haryanto11:24 PM

Daftar isi

Filled under:

Posted By Pak3Haryanto4:43 PM

Sistem Pendidikan Suku Mauritaniyyah Yang Menakjubkan

SUNGGUH, JIKA ANDA MEMBACA ARTIKEL KALI INI, ANDA AKAN BERKATA, "MASYA ALLAH, LUARRR BIASAAAA............!!!!!!!!"



Ibnu 'Amr Ad Dimakiy dari ustadz 'Abdullah Zaidi bercerita kepadaku...

"Anta tau tidak kalau ada satu suku yang sangat disegani oleh masyaikh saudi, namun berasal dari luar As Su'udiyyah?"

"Suku apa itu ustadz?"

"Pernah dengar Mauritaniyyah?"

"Belum ustadz, kenapa mereka disegani ustadz?"

"Karena kebiasaan mereka dalam menuntut 'ilmu yang sangat luar biasa... Jika ada seorang anak kecil disana berumur 7 tahun belum hafal qur'an itu akan sangat memalukan kedua orangtuanya... Bahkan 7 dari 13 doktor di MEDIU berasal dari Mauritaniyyah."

Anak-anak suku Mauritania menunjukkan catatannya
yang ditulis di kayu "Lawhah"

"Masya Allah, bagaimana sistem pengajaran mereka...???

"Pertanyaan anta jamil... memang kita bukan hanya harus takjub, tapi kita harus meniru sistem yang mereka gunakan. jadi begini akhi...

Mereka itu mendapatkan pendidikan Al Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi sejak BAYI...
Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan waktu HANYA tidur di kasur. ibu tersebut akan MENYIBUKKAN DIRI untuk MUROJA'AH HAFALANNYA hingga ibu itu TERASA LETIH karenanya...

Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muroja'ah. Misalkan seorang anak akan muroja'ah kepada bapak atau ibunya, maka DIWAJIBKAN untuk dia muroja'ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja'ah kepada ibunya. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya ya itulah tantangan untuk anak tersebut..."
"Masya Allah, lalu sistem ketika menginjak remaja gimana ustadz?"

"Ahsanta, ketika mereka berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama. mereka TIDAK BELAJAR DI DALAM KELAS. Jadi para masyaikh setempat MEMBUAT TENDA DI TENGAH GURUN, dan di dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan... Mungkin dalam fikiran kita menyakitkan karena panasnya. namun itu NIKMAT untuk mereka karena RASA INGIN TAU YANG TINGGI pada diri mereka menjadikan SEDIKIT 'ILMU adalah NIKMAT DAN RIZQI YANG MELIMPAH UNTUK MEREKA, BUKAN HARTA...!!!"

"Masya Allah... Masya Allah Yaa Ustadz..."

"Na'am, ketika syaikh tersebut berkata, "ISTAMI'...!!!", maka semuanya menatap syaikh tersebut dan menyimak dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan BERMAIN PULPEN, karena akan dimarahi... 

Setelah syaikhnya menerangkan panjang lebar barulah mereka menulis. Mereka menulispun juga BUKAN di selembar kertas. Mereka menulis di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah, kenapa tidak pakai kertas? karena memang itu dilarang, dan mereka hanya membawa selembar saja... 

Setelah mereka menulis maka tulisan mereka yang berasal dari ingatan mereka itu ditunjukkan ke syaikh, kalau ada kesalahan maka akan dikembalikan untuk dibetulkan hingga semua santrinya menuliskan semua yang diucapkan syaikh... Itu menunjukkan SYAIKH TERSEBUT HAFAL APA YANG DIUCAPKAN.
Masya Allah... Ketika semua santrinya telah menuliskan dengan benar maka syaikh memerintahkan untuk dihapus..."

"Dihapus ustadz...??? Lalu mereka tidak punya catatan pelajaran hari itu dong?"

"Laa yaa akhi, ketika semuanya sudah benar itu menunjukkan pelajaran yang disampaikan oleh syaikh sudah HAFAL DI LUAR KEPALA. Jadi catatan mereka ya ingatan mereka itu... Setelah semuanya benar dan telah dihapus, maka syaikh melanjutkan pelajarannya... Begitu seterusnya sampai pelajaran di hari itu habis. Setelah mereka pulang ke rumah, barulah apa yang mereka INGAT mereka tulis ulang dalam buku-buku mereka...
Di usia 17 tahun, mereka sudah bisa mengeluarkan fatwa, yang berarti mereka sudah menjadi MUFTI..."
Belajar dengan hafalan dan mencatat di kayu
"Masya Allah, merinding ana ustadz..."

"Jamil... Dulu ketika ana di LIPIA ada cerita menarik, dosen ana ketika ingin mencari atau mengingat-ingat sebuah hadits maka beliau bertanya kepada temannya yang masih berstatus mahasiswa S2, karena apa?
Karena ikhwan ini sudah hafal kutubus sittah, bulughul marom, shohihain, dan sekarang sedang menghafal musnad imam ahmad dan sudah hafal 2/3 nya... Anta tau kan kitab-kitab tersebut tebalnya seperti apa??? itu hanya masih tebalnya, belum isi dari kitab tersebut... BERAPA BANYAK HADITS YANG TERDAPAT DI KITAB ITU? Masya Allah.

Dan yang akan lebih mengherankan anta adalah, MEREKA BUKAN HANYA HAFAL MATAN HADITSNYA... NAMUN SAMPAI KE RIJALUL HADITS, PERAWI INI LAHIR TAHUN SEKIAN, MENINGGAL TAHUN SEKIAN, MENGAMBIL HADITS DARI SIAPA SAJA, DINYATAKAN TSIQAH ATAU TIDAK OLEH 'ULAMA, HINGGA DIA BISA MENENTUKAN SENDIRI SANAD HADITS TERSEBUT SHAHIH ATAU TIDAK TANPA MENCATUT PERKATAAN SEORANG MUHADDITS SEPERTI SYAIKH ALBANI KALAU HADITS TERSEBUT SHAHIH..."

"Masya Allah, merasa tidak punya apa-apa ustadz ketika menyadari di belahan bumi lain ada yang mempelajari agama hingga seperti itu..."

"Na'am, ana pun demikian... kalau anta ingat, USTADZ ERWANDI TARMIDZI pernah bilang seperti ini : "Janganlah kalian bangga ketika sudah hafal al qur'an, karena memang itu belum ada apa-apanya di kalangan penuntut 'ilmu, dan janganlah kalian bangga ketika sudah hafal hadits arbain, karena itu sudah sangat lazim di kalangan penuntut 'ilmu, janganlah kalian menjadi sombong dengan sedikitnya 'ilmu yang kalian miliki... karena bukannya 'ilmu itu akan bertambah malah bisa jadi akan berkurang. hafal qur'an hanyalah pintu untuk antum memasuki dunia para 'ulama, hadits arbain hanyalah dasar pijakan pertama antum memasuki dunia para 'ulama, namun kalian belum pantas disebut 'ulama..."

Perpustakaan kuno di Syinqith (Chinguetti)

"Masya Allah, banyak faidah dari obrolan ini ustadz..."

"Jamil, makna dari zuhud itu apa? Al Faqir Wal Masakin kah? Atau seperti apa menurut anta?"

"Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang ditanya ustadz..."

"Ahsanta, Barakallahu fiik, zuhud adalah ketika kita mampu meninggalkan apa-apa saja yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, al mislu: nonton YKS bermanfaat tidak untuk kehidupan akhirat kita?"

"Tidak ustadz."

"Jamil, maka tinggalkanlah hal yang serupa dengan itu dalam urusan duniawi kita kalau tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita... Itulah zuhud."

"Ahsanta, lalu kenapa 'ulama dari mauritaniyyah tidak terkenal ustadz?"

"Karena kebiasaan mereka... Mereka lebih disibukkan untuk belajar dan mengajar. Tidak ada yang namanya safari dakwah atau khuruj ke suatu tempat dan yang semisalnya... Kalau kita butuh beliau, ya kita yang mengunjungi beliau... Sebenarnya banyak 'ulama dari mauritaniyyah, coba saja cari 'ulama yang berakhiran "ASY SYINQITHI"Mereka adalah hasil didikan adat menuntut 'ilmu ala mauritaniyyah..."

"Syukran atas tadzkirahnya ustadz."

"'Afwan, sebenarnya ana juga sedang muhasabah diri, kalau diri kita belum dididik dengan sistem seperti itu, berarti tugas kita untuk mendidik anak cucu kita dengan sistem yang mereka miliki..."


Ulama Ahlus sunnah Sheikh Abdullah Bin Bayyah – Mauritania,
salah satu pengajar di Universitas King Abdul Aziz University – Saudi Arabia,
beliau bermazhab Maliki

Posted By Pak3Haryanto8:45 AM

Sunday, February 2, 2014

“Koran By Heart”, Kisah Tiga Bocah Dalam Lomba Hafalan Al-Qur’an Internasional

Bismillah …
Melanjutkan berbagi tentang [Dreambook] Program Mencetak Anak Penghafal Al-Qur’an, kali ini saya ingin berbagi informasi sebuah film dokumenter yang inspiratif berjudul “KORAN BY HEART”.
Film dokumenter produksi HBO ini diproduksi tahun 2011 dengan sutradaraGreg Baker menceritakan tentang perjalanan hafidz (penghafal Al-Qur’an) yang berkompetisi dalam Lomba Hafalan Al Qur’an Internasional tahun 2010 di Kairo, Mesir. Lomba ini diadakan oleh pemerintah Mesir setiap tahunnya. Film ini luar biasa dan sangat inspiratif buat para penghafal Al-Quran, sesuai dengan judulnya yang menyampaikan pesan bahwa mereka menghafal Al-Quran tidak sekedar mengandalkan otak melainkan juga menggunakan hati.

Peserta lomba (sebanyak 110 penghafal Al-Qur’an) dari 70 negara hadir, mereka berusia antara 7 – 20 tahun. Tidak ada peng-klasifikasian berdasarkan usia. Usia tidak penting, yang penting adalah hafalannya. Mereka menghadapi tantangan yang berat selama waktu pelaksanaan lomba di bulan Ramadhan, dimana para peserta harus berpuasa di siang hari dan berlomba di malam hari hingga dini hari. Penggunaan komputer dalam perlombaan juga membuat beberapa peserta bertambah gugup. Komputer bertugas untuk memperdengarkan ayat Al-Qur’an, kemudian peserta diminta untuk melanjutkan bacaannya sampai ayat yang telah ditentukan. Penilaian juga meliputi ketepatan makhraj dan tajwid.
Penilaian dilaksanakan oleh beberapa juri yang telah dikenal memiliki kompetensi dalam hafalan Al-Qur’an. Bahasa komunikasi antara juri dengan peserta selama lomba adalah bahasa Arab. Jika peserta salah dalam melanjutkan ayat, namun ia mampu menyadari kesalahannya, maka ia akan dipotong setengah poin. Namun, jika juri yang membetulkan kesalahannya, maka peserta kehilangan satu poin. Kalau salah tiga kali dalam pertanyaan yang sama, maka peserta tidak akan mendapat poin.
Film “Koran by Heart” ini berfokus pada sisi parenting yaitu mengangkat kisah anak – anak sebagai contoh kasus, diantaranya Saidov Nabiollah Muhammad dari TajikistanRifdha Muhammad Rasyid dari Maladewa; danDjamil dari Senegal. Ketiganya adalah mutiara yang kini tersebar di permukaan bumi yang memiliki kesamaan, antara lain:
  1. Sama-sama berusia 10 tahun dan sama-sama telah hafal Al-Qur’an 30 juz;
  2. Tidak satu pun dari ketiga bocah itu yang bisa berbahasa Arab;
  3. Jarak tempat tinggal ketiganya terpisah ribuan kilometer, namun mereka mempelajari Al-Qur’an yang sama.
Melalui fakta ini, sutradara ingin menunjukkan sebuah hikmah dari mukjizat Al-Qur’an yang mudah dihafalkan sehingga terpelihara sepanjang masa, meski para penghafal tidak bisa berbahasa Arab. Begitu juga pesan-pesan keutamaan menjadi penghafal Al-Qur’an dikemas secara apik melalui penggalan kisah sederhana hidup ketiga anak ini. Dalam postingan terpisah akan saya coba sharing tentang bagaimana Greg Baker yang non-muslim ini menggarap sebuah film dokumenter yang mengupas dunia Islam yang menakjubkan, melalui riset yang sungguh-sungguh, sehingga menghasilkan sebuah karya yang menyentuh hati. Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi sineas-sineas Indonesia agar saat mengangkat tema religi tidak malah menyulut konflik karena kekurang-pahamannya akan ajaran Islam dan tradisi yang menyelimutinya sebagai latar belakang.
Selain menggambarkan suasana kompetisi hafidz di Kairo, film ini juga menceritakan kehidupan ketiga bocah muslim tersebut di atas di kampungnya, yaitu tentang sekolah mereka, cita-cita mereka, dan harapan orang tuanya. Adegan bolak-balik dari Kairo dan di negara mereka masing-masing. Gambaran masing-masing perjalanan ketiga anak itu adalah sebagai berikut:
Perjalanan Saidov Nabiollah Muhammad
Saidov Nabiollah MuhammadBerasal dari Tajikistan di sebelah utara Asia dan merupakan negara bekas wilayah Uni-Sovyet, berasal dari ras Kaukasus, dan bahasa sehari-harinya adalah Tajik. Ia belajar di sebuah pesantren yang sangat jauh dari keramaian kota, dibimbing seorang qari bernama Umar. Cara ia menghafal pun sangat mengagumkan setiap ayat dibacakan oleh gurunya lalu ditirukannya begitu seterusnya sampai dia selesai menghafal 30 juz Al-Qur’an. Bocah yang tidak tahu bahasa Arab sama sekali ini mempunyai kelebihan yaitu daya ingat yang luar biasa. Nabiollah terlihat sangat percaya diri, tenang, cerdas, dan ia pun pandai bergaul dengan siapa saja.
Saat perlombaan, ia sempat grogi karena tidak tahu bagaimana cara mengoperasikan komputer untuk memilih ayat secara acak, sampai ada petugas yang membantunya, dan ketika penggalan surat selesai dibacakan oleh komputer, ia pun harus meneruskannya. Setelah agak tenang ia membaca hafalannya dengan memejamkan mata dan membayangkan tiap kalimat yang dia baca, seperti sedang membuka halaman-halaman Al-Qur’an dalam pikirannya. Masya Allah… sungguh suaranya itu lho … sangat menawan, merdu dan lembut. Sampai salah satu juri senior, Sha’aysha, meneteskan air mata, menangis dan mencium pipi Nabiollah setelah proses tes. Saya merasa merinding mendengar suara dan ketenangan Nabiollah ini. Sayapun melihat istri saya juga meneteskan air mata, dan beberapa kali menyeka matanya yang basah. Saya rekomendasikan Anda sekeluarga nonton film ini deh…
Di bawah ini, bagian film saat Nabiollah mengikuti lomba, termasuk pandangan dari pakar kajian lantunan dan rima Al-Qur’an dari Barat (non-muslim). Mari kita jeda sejenak untuk menyaksikannya.

Dengan skor 95 / 100, akhirnya Nabiollah menjadi juara ke-3, dan ia satu-satunya peserta yang dipilih untuk mentasmi’ Qur’an dihadapan Presiden, pejabat dan masyarakat Kairo dalam Award Ceremony perlombaan tersebut (di malam Lailatul Qadr). Meski tidak bisa berbahasa Arab, ia mampu menghadirkan bacaan Al-Qur’an dengan hati dan menghafal seluruh bacaan dengan sempurna.
Hal yang mengenaskan adalah ketika Nabiollah sedang mengikuti kompetisi internasional ini, pesantrennya dituding sebagai alat penyebar ekstremisme Islam dan akhirnya ditutup. Sungguh fitnah yang sangat keji dari mereka yang islamophobia.
Perjalanan Rifdha Muhammad Rasyid
Rifdha Muhammad RasyidAnak ini berasal dari Maladewa/Maldives yang terletak di Samudra Hindia. Anaknya lucu, aktif dan jenius itu bercita-cita menjadi peneliti. Ia selalu berprestasi di semua mata pelajaran sekolah. Nilainya selalu 100 untuk dua mata pelajaran yang disukainya yaitu Matematika dan Sains.
Rifdha adalah salah satu mutiara muslim di zaman modern ini, ayahnya punya pemahaman Islam yang baik, ia ingin anaknya bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya untuk mencapai cita-citanya sebagai peneliti tanpa meninggalkan kodratnya sebagai muslimah yaitu menjadi istri yang baik bagi suaminya.
Rifdha yang didampingi ayahnya dalam mengikuti lomba, di akhir kompetisi mendapat peringkat dua, dengan skor 97. Ia juga tidak bisa berbahasa Arab, namun diakui juri mampu membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang sempurna.
Perjalanan Djamil

djamilAnak ini berasal dari Senegal, pesisir barat Afrika. Ayahnya adalah seorang imam dan khatib masjid di Senegal, ia berharap kelak Djamil akan menjadi penerusnya, seorang imam lokal yang dihormati dalam lingkungannya. Djamil diajarkan oleh gurunya di Senegal bahwa Islam adalah agama damai dan orang Islam harus menganut prinsip tersebut dalam hidupnya, tetapi pemerintah Senegal menutup sekolah yang dikhawatirkan akan mengembangkan ajaran fundamentalis. Lagi-lagi kebijakan membabi-buta dari pemerintah yang islamophobia.
Seperti keluarga Senegal pada umumnya, Djamil hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu baik, sehingga ia tidak ditemani satupun keluarganya saat mengikuti lomba di Kairo, Mesir. Ketika perlombaan, Djamil gugup sekali karena ia tidak paham dengan komunikasi bahasa Arab apalagi mengoperasikan komputer lomba, sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi dan tampak kebingungan. Ketika berkali-kali salah membaca ayat yang ditentukan, ia diingatkan oleh juri namun masih juga tidak faham, jelas bahasa menjadi kendalanya. Namun demikian, ia mempunyai kualitas bacaan yang mengagumkan, dengan penghayatannya iapun membaca sambil meneteskan air mata. Meski akhirnya, ia hanya mendapatkan skor 22,4; karena kesalahpahamannya dalam berkomunikasi yang menyebabkan ia salah mengikuti arahan juri.
Sebagai bentuk penghormatan atas kegigihan Djamil dalam menghafal Al-Quran, di-usia yang baru 10 tahun itu ia dipersilahkan membacakan Al-Qur’an di salah satu masjid terbesar di Kairo. Masya Allah… it’s simply beautiful and touching.
Peran orang tua sebagai pondasi dasar
Meski banyak dari mereka yang tidak bisa berbahasa Arab, namun mereka mampu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu nan indah. Sulit bagi saya untuk menahan emosi ketika menonton film ini. Rasanya bergelora melihat anak-anak seusia anak saya sudah mampu mencapai titik yang saya sendiri belum pernah mencapainya. Untuk itu, saya rekomendasikan kepada para keluarga muslim untuk menonton film ini, biar juga merasakan emosi yang membawa perubahan positif. Film ini benar-benar tontonan keluarga yang inspiratif, mencontohkan betapa pendidikan Al-Qur’an diawali di rumah, dari orangtuanya dulu kepada anak.
Selain ketiga tokoh sentral film ini, saya mengagumi semangat seluruh peserta dari seluruh dunia dalam menghafal Al-Quran. Para hafidz lain yang muncul dalam film dokumenter ini adalah Muhammad (10 th) dari Australia, Susana (17 th) dari Italia, Nu’man (10 th) dari Afrika Selatan, Yasser (7 th) dari Mesir, Abdel (10 th) dari Pakistan, Omar (19 th) dari Nigeria, Abdullah (17 th) dari Mesir – ia menjadi Juara 1, dan masih banyak lagi. Semua kontestan yang ikut dalam kompetisi tersebut adalah manusia luar biasa, karena dalam ingatannya-lah, ayat-ayat Al-Qur’an itu ditanam, dan mereka menjadi bagian dari para penjaga Al-Qur’an sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan seseungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [QS Al-Hijr: 9]
Mereka dan kita, sama-sama memiliki jumlah waktu 24 jam setiap harinya. Pembedanya yakni sikap kecintaannya pada Al-Qur’an, sehingga mereka optimalkan waktu dan potensi untuk mencapai cita-cita menjadi Hafidzul Qur’an. Kunci keberhasilan mereka lainnya yang ditonjolkan dalam film ini yakni terletak pada peran keluarga. Ayah sebagai kepala keluarga dan pelopor keteladanan memiliki peranan besar menjadi motivator anak untuk menghafal Al-Qur’an. Dukungan kedua orang tua lah yang menjadi pondasi terkuat mereka untuk tetap bersemangat menghafal dan mewujudkan cita-cita menjadi Hafidzul Qur’an, bagian dari generasi pewaris Qur’an yaitu orang-orang yang menjaga orisinalitas Qur’an.
Perlu perjuangan yang sungguh – sungguh untuk menghafal sebanyak 6236 ayat, 540 paragraf dalam 114 surah Al-Qur’an. Sehingga menjadi penghafal Al-Qur’an masih menjadi hal yang berat bagi sebagian masyarakat. Namun, AllahSubhanahu Wa Ta’ala telah menunjukkan pada kita sebaliknya, bahwa faktanya betapa banyak anak-anak di dunia ini yang menorehkan prestasi gemilang sebagai penghafal Al-Qur’an di usia belia. Sesuai dengan firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [QS Al-Qamar: 17]
Empat kali ayat tersebut diulang pada surah Al-Qamar. Pengulangan ayat ini merupakan penekanan akan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan bagi hamba-Nya untuk dipelajari. Pilihannya adalah, maukah kita mempelajarinya atau tidak.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menambahkan ilmu dan semangat dalam diri kita dan anak cucu kita untuk menjadi pribadi yang cerdas intelektual, peduli sosial, dan penghafal Al-Quran. aamiin.
Salam hangat tetap semangat,
**********
Catatan:
Anda bisa menonton film ini secara online atau mendownloadnya di sini, terjemahan dalam bahasa Inggris sudah ada di dalamnya.
B

Posted By Pak3Haryanto8:36 AM