Tuesday, April 1, 2014

Fonologi: Fonetik dan Fonemik (Linguistik Umum bag. 3)

A. Fonetik 1. Pengertian dan Macam Fonetik
Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi tiga, yaitu:
  1. Fonetik artikulatoris: mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa. 
  2. Fonetik akustik: mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.
  3. Fonetik auditoris: mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

2. Alat Ucap
Hal pertama pertama yang dibicarakan dalam fonetik artikulatoris adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa.alat ucap manusia terdiri dari:
  1. paru-paru (lung) 
  2. batang tenggorok (trachea)
  3. pangkal tenggorok (larynx)
  4. pita suara (vocal cord)
  5. krikoid (cricoid)
  6. tiroid (thyroid) atau lekum
  7. aritenoid (arythenoid)
  8. dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
  9. epiglotis (epiglottis)
  10. akar lidah (root of tongue)
  11. pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)
  12. tengah lidah (middle of tongue, medium)
  13. daun lidah (blade of tongue, laminum)
  14. ujung lidah (tip of the tongue, apex)
  15. anak tekak (uvula)
  16. langit-langit lunak (soft palate, velum)
  17. langit-langit keras (hard palate, palatum)
  18. gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
  19. gigi atas (upper teeth, dentum)
  20. gigi bawah (lower teeth, dentum)
  21. bibir atas (upper lip, labium)
  22. bibir bawah (lower lip, labium)
  23. mulut (mouth)
  24. rongga mulut (oral cavity)
  25. rongga hidung (nasal cavity)

3. Proses Fonasi
Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui batang tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara. Dari pita suara udara diteruskan melalui rongga mulut atau rongga hidung ke udara bebas. Jika udara yang keluar dari paru-paru tidak mendapat hambatan apa-apa maka tidak terjadi bunyi bahasa.
Bunyi bahasa terjadi karena udara yang dihembuskan dari paru-paru mendapat hambatan di pita suara. Empat macam posisi pita suara saat dilewati udara yaitu: (a) pita suara terbuka lebar (tidak menghasilkan bunyi), (b) pita suara terbuka agak lebar (mengahasilkan bunyi tak bersuara), (c) pita suara terbuka sedikit (menghasilkan bunyi bersuara), dan (d) pita suara tertutup rapat (menghasilkan bunyi hamzah atau bunyi glotal).

4. Klasifiaksi Bunyi
Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Pita suara yang terbuka sedikit ini menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang dipompakan dari paru-paru. Selanjutnya arus udara itu keluar melalui rongga mulut tanpa mendapat hambatan apa-apa. Bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

a. Klasifikasi Vokal
Bunyi vokal diklasifikasikan berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa horisontal atau vertikal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya bunyi [i] dan [u]; vokal tengah, misalnya bunyi [e] dan [ ]; vokal rendah, misalnya bunyi [a]. Secara horisontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya bunyi [i] dan [e]; vokal pusat, misalnya bunyi [ ]; dan vokal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]. Menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar.

b. Diftong atau Vokal Rangkap
Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun. diftong naik, bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua; sebaliknya diftong turun, posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua. Contoh diftong adalah [au] seperti pada kata harimau. Contoh lain, bunyi [ai] seperti pada kata cukai.

c. Klasifikasi Konsonan
Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Tempat artikulasi tidak lain daripada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi itu. Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal antara lain konsonan:
  1. Bilabial: konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas -- [b], [p], dan [m] 
  2. Labiodental: yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada gigi atas -- [f] dan [v]
  3. Laminoalveolar: konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi -- [t] dan [d]
  4. Dorsovelar: konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak -- [k] dan [g]
Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, dapat dibedakan adanya konsonan:
  1. Hambat: [p], [b], [t], [d], [k], dan [g] 
  2. Geseran atau frikatif: [f], [s], dan [z]
  3. Paduan atau frikatif : [c], dan [j]
  4. Sengauan atau nasal: [m], [n], dan [ŋ]
  5. Getaran atau trill: [r]
  6. Sampingan atau lateral: [l]
  7. Hampiran atau oproksiman : [w], dan [y]

5. Unsur Suprasegmental
Unsur suprasegmental adalah unsur yang menyertai bunyi segmental. Unsur suprasegmental terdiri dari: (a) tekanan atau stres, (b) nada atau pitch, dan (c) jeda atau persendian.

a. Tekanan atau Stres
Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Tekanan dapat bersifat distingtif atau membedakan makna (contohnya dalam bahasa Inggris) dan juga bisa tidak distingtif (contohnya dalam bahasa Indonesia).
Misalnya, tekanan pada kata dalam bahasa Inggris blackboard.
blackboard (tekanan pada kata black)  ’papan tulis’
blackboard (tekanan pada kata board)  ’papan hitam’

b. Nada atau Pitch
Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi. Dalam bahasa-bahasa bernada atau bahasa tonal, seperti bahasa Thai dan Vietnam, nada dapat membedakan makna. Macam nada ada lima yaitu:
  • Nada naik lambang : / ... / 
  • Nada datar lambang : / ... /
  • Nada turun lambang : / ... /
  • Nada turun naik lambang : / ... /
  • Nada naik turun lambang : / ... /
c. Jeda atau Persendian
Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Jeda atau persendian dibedakan atas sendi dalam (internal juncture) dan sendi luar (open juncture).

- Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain, yang dilambangkan dengan tanda tambah (+). Contohnya, /am+bil/
- Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel. Dalam hal ini biasanya dibedakan:
  1. Jeda antarkata dalam frase ( / ) 
  2. Jeda antarfrase dalam klausa ( // )
  3. Jeda antarkalimat dalam wacana ( # )
Contoh: # buku // sejarah / baru #
# buku / sejarah // baru #

 
B. Fonemik
Fonemik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.
Identifikasi Fonem
Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip. Misalnya, kata laba dan raba. Perbedaan pada kata tersebut adalah pada bunyi [l] dan [r]. Maka, dapat disimpulkan bunyi [l] dan bunyi [r] adalah dua buah fonem yang berbeda di dalam bahasa Indonesia yaitu fonem [l] dan fonem [r].

a. Alofon
Alofon adalah realisasi dari fonem, atau pengucaoan yang konkret dari sebuah fonem. Dalam bahasa Indonesia, fonem [o] mempunyai dua alofon, yaitu bunyi [ ] seperti pada kata tokoh dan bunyi [o] seperti pada kata toko. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, benyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya.

b. Perubahan Fonem
1) Asimilasi dan Disimilasi
Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, kata Sabtu biasa diucapkan [saptu], di mana bunyi [b] berubah menjadi [p] karena pengaruh bunyi [t].

Asimilasi dibedakan menjadi tiga, yaitu:
  1. Asimilasi progresif: Bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya -- Kata mit der Frau (Belanda) diucapkan [mit ter Frau] 
  2. Asimilasi regresif: Bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya -- Kata op de weg (Belanda) diucapkan [obdeweg]
  3. Asimilasi resiprokal: Perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi -- Kata Bereng hamu (Batak Toba) diucapkan [berek kamu]

Disimilasi adalah perubahan bunyi yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kata cipta dan cinta yang berasal dari bahasa Sansekerta citta. Kita lihat, bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan menjadi bunyi [nt] pada kata cinta.

2) Netralisasi dan Arkifonem
Dalam bahasa Belanda kata hard dilafalkan [hart]. Dalam bahasa adanya bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard adalah hasil netralisasi. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ disebut arkifonem. Contoh lainnya, dalan bahasa Indonesia kata jawab diucapkan [jawap]; tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban. Jadi, di sini ada arkifonem /B/, yang realisasinya bisa berupa [b] atau [p].

3) Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman yang berarti perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi. Misalnya, dalam bahasa Belanda bunyi [a] pada kata handje lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan bunyi [a] pada kata hand. Penyebabnya adalah bunyi [y] yang posisinya lebih tinggi dari bunyi [a].

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Misalnya, dalam bahasa Inggris kata sing berubah menjadi sang atau sung untuk penandaan kala. Perubahan bunyi berupa harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalamm bahasa Turki. Misalnya, kata at ’kuda’ bentuk jamaknya adalah atlar ’kuda-kuda’; oda ’rumah’ bentuk jamaknya adalah odalar ’rumah-rumah.

4) Kontraksi
Perubahan bunyi berupa kontraksi adalah pemendekan lafal. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kata tidak tahu menjadi ndak tahu; dalam bahasa Inggris kata will not menjadi won’t.

5) Metatesis dan Epentesis
Proses metatesis bukanlah mengubah bentuk fonem menjadi fonem lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam kata. Misalnya, dalam bahasa Indonesia selain bentuk jalur ada lajur; selain kolar ada koral. Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Misalnya, ada kampak di samping kapak; ada sampi di samping sapi.


Referensi:

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Download Resume Buku Linguistik Umum 
Karya Abdul Chaer

Posted By Pak3Haryanto2:29 PM

Hakikat Bahasa dan Sifat-sifat Bahasa (Linguistik Umum bag. 2)

A. Hakikat / Pengertian Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. (Kridalaksana: 1983)

Ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa yaitu: 

(1) bahasa itu adalah sebuah sistem,  (2) bahasa itu berwujud lambang,  (3) bahasa itu berupa bunyi,  (4) bahasa itu bersifat arbitrer,  (5) bahasa itu bermakna,  (6) bahasa itu bersifat konvensional,  (7) bahasa itu bersifat unik,  (8) bahasa itu bersifat universal,  (9) bahasa itu bersifat produktif,  (10) bahasa itu bervariasi,  (11) bahasa itu bersifat dinamis, dan  (12) bahasa itu manusiawi.

A. Sifat-sifat Bahasa
1. Bahasa itu adalah Sebuah Sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan.

Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.

2. Bahasa itu Berwujud Lambang
Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

3. Bahasa itu berupa bunyi
Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

4. Bahasa itu bersifat arbitrer
Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang dikandung signifiant.

Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.

5. Bahasa itu bermakna
Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi makna. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
[kuda], [makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa
[dsljk], [ahgysa], [kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa

6. Bahasa itu bersifat konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat.

7. Bahasa itu bersifat unik
Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

8. Bahasa itu bersifat universal
Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

9. Bahasa itu bersifat produktif
Bahasa bersifat produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa Indonesia, /a/, /i/, /k/, dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:

  • /i/-/k/-/a/-/t/ 
  • /k/-/i/-/t/-/a/
  • /k/-/i/-/a/-/t/
  • /k/-/a/-/i/-/t/
10. Bahasa itu bervariasi
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa yang digunakan menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:

  1. Idiolek : Ragam bahasa yang bersifat perorangan. 
  2. Dialek : Variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.
  3. Ragam : Variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan ragam tidak baku.

11. Bahasa itu bersifat dinamis
Bahasa tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah, maka bahasa menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis. Perubahan itu dapat berupa pemunculan kata atau istilah baru, peralihan makna sebuah kata, dan perubahan-perubahan lainnya.

12. Bahasa itu manusiawi
Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa bersifat produktif dan dinamis. Maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.



 

Referensi:Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Download Resume Buku Linguistik Umum Karya Abdul Chaer


Posted By Pak3Haryanto2:23 PM

Pengertian Linguistik, Subdisiplin Linguistik, dan Manfaat Linguistik (Linguistik Umum bag. 1)

A. Pengertian Linguistik
Kata linguistik berasal dari bahasa latin lingua yang berarti ’bahasa’. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Dalam bahasa Perancis ada tiga istilah untuk menyebut bahasa yaitu:

  • Langue: suatu bahasa tertentu. 
  • Langage: bahasa secara umum.
  • Parole: bahasa dalam wujud yang nyata yaitu berupa ujaran.
Ilmu linguistik sering juga disebut linguistik umum (general linguistics). Artinya, ilmu linguistik tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, yang dalam peristilahan Perancis disebut langage. Pakar linguistik disebut linguis. Bapak Linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913). Bukunya tentang bahasa berjudul Course de Linguistique Generale yang diterbitkan pertama kali tahun 1916.

Dalam dunia keilmuan, tidak hanya linguistik saja yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Ilmu atau disiplin lain yang juga mengkaji bahasa diantaranya: ilmu susastra, ilmu sosial (sosiologi), psikologi, dan fisika. Yang membedakan linguistik dengan ilmu-ilmu tersebut adalah pendekatan terhadap objek kajiannya yaitu bahasa. Ilmu susastra mendekati bahasa sebagai wadah seni. Ilmu sosial mendekati dan memandang bahasa sebagai alat interaksi sosial di dalam masyarakat. Psikologi mendekati dan memandang bahasa sebagai pelahiran kejiwaan. Fisika mendekati dan memandang bahasa sebagai fenomena alam. Sedangkan linguistik mendekati dan memandang bahasa sebagai bahasa atau wujud bahasa itu sendiri.


Keilmiahan Linguistik
Pada dasarnya, setiap ilmu termasuk linguistik mengalami tiga tahap perkembangan yaitu:
Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilakukan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Dalam studi bahasa dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia diturunkan dari bahasa Ibrani, Adam dan Hawa memakai bahasa Ibrani di Taman Firdaus, dan Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia. Semuanya itu hanyalah spekulasi yang pada zaman sekarang sukar diterima.

Tahap kedua, yakni tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau membuat kesimpulan.

Tahap ketiga, yakni tahap perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang ada.
Linguistik telah mengalami tiga tahapan tersebut sehingga dapat dikatakan linguistik merupakan kegiatan ilmiah.

 

B. Subdisiplin Linguistik
Subdisiplin linguistik dapat dikelompokkan berdasarkan:

  1. objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu,
  2. objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa, 
  3. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa,
  4. tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori atau untuk terapan, dan
  5. teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

Berdasarkan Objek Kajiannya, Apakah Bahasa pada Umumnya atau Bahasa Tertentu
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi linguistik umum dan linguistik khusus. Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

Berdasarkan Objek Kajiannya, Apakah Bahasa pada Masa Tertentu atau Bahasa Sepanjang Masa

Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik (linguistik deskriptif) dan linguistik diakronik (linguistik historis komparatif). Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa tertentu. 


Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan atau mengkaji bahasa Inggris pada zaman William Shakespeare. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai masa sekarang. Tujuan linguistik diakronik adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

Berdasarkan Objek Kajiannya adalah Struktur Internal Bahasa itu atau Bahasa itu dalam Kaitannya dengan Berbagai Faktor di Luar Bahasa
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi linguistik mikro (mikrolinguistik) dan linguistik makro (makrolinguistik). Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal bahasa. Dalam linguistik mikro ada beberapa subdisiplin yaitu:

  • Fonologi: menyelidiki tentang bunyi bahasa. 
  • Morfologi: menyelidiki tentang morfem.
  • Sintaksis: menyelidiki tentang satuan-satuan kata.
  • Semantik: menyelidiki makna bahasa.
  • Leksikologi: menyelidiki leksikon atau kosakata.
Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa. Subdisiplin-subdisiplin linguistik makro antara lain:

  • Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaian di masyarakat. 
  • Psikolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dana kal budi manusia.
  • Antropolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan budaya.
  • Filsafat bahasa: mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia.
  • Stilistika: mempelajari bahasa dalam karya sastra.
  • Filologi: mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan tertulis.
  • Dialektologi: mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah.
Berdasarkan Tujuan Pengkajiannya Apakah untuk Keperluan Teori atau Untuk Terapan Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi linguistik teoritis dan linguistik terapan. Linguistik teoritis berusaha mengadakan penyelidikan bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Jadi, kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka. Linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan bahasa untuk kepentingan memecahkan masala-masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat. Misalnya, untuk pengajaran bahasa, penyusunan kamus, dan pemahaman karya sastra.  Berdasarkan Teori atau Aliran yang Digunakan untuk Menganalisis Objeknya Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi tradisional, linguistik struktural, linguistik tranformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.


 

C. Manfaat Linguisik
Linguistik memberi manfaat langsung kepada orang yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa seperti linguis, guru bahasa, penerjemah, penyusun kamus, penyusun buku teks, dan politikus. Manfaat linguistik diantaranya:

  • Linguis: membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya dalam penyelidikan bahasa. 
  • Guru bahasa: melatih dan mengajarkan keterampilan berbahasa.
  • Penerjemah: membantu dalam mendapatkan hasil terjemahan yang baik.
  • Penyusun kamus: membantu dalam menyusun kamus yang lengkap dan baik.
  • Penyusun buku teks: membantu dalam memilih kata dan menyusun kalimat yang tepat.
  • Politikus: membantu dalam aktivitasnya berkomunikasi dengan orang banyak.

Referensi:
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta




Download Resume Buku Linguistik Umum Karya Abdul Chaer

Posted By Pak3Haryanto2:15 PM

Resume Buku Linguistik Umum Karya Abdul Chaer

Kata linguistik berasal dari bahasa latin lingua yang berarti ’bahasa’. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Dalam bahasa Perancis ada tiga istilah untuk menyebut bahasa yaitu:


Langue : suatu bahasa tertentu.
Langage : bahasa secara umum.
Parole : bahasa dalam wujud yang nyata yaitu berupa ujaran.
Ilmu linguistik sering juga disebut linguistik umum (general linguistics). Artinya, ilmu linguistik tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, yang dalam peristilahan Perancis disebut langage. Pakar linguistik disebut linguis. Bapak Linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913). Bukunya tentang bahasa berjudul Course de Linguistique Generale yang diterbitkan pertama kali tahun 1916.

Dalam dunia keilmuan, tidak hanya linguistik saja yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Ilmu atau disiplin lain yang juga mengkaji bahasa diantaranya: ilmu susastra, ilmu sosial (sosiologi), psikologi, dan fisika. Yang membedakan linguistik dengan ilmu-ilmu tersebut adalah pendekatan terhadap objek kajiannya yaitu bahasa. Ilmu susastra mendekati bahasa sebagai wadah seni.


Ilmu sosial mendekati dan memandang bahasa sebagai alat interaksi sosial di dalam masyarakat. Psikologi mendekati dan memandang bahasa sebagai pelahiran kejiwaan. Fisika mendekati dan memandang bahasa sebagai fenomena alam. Sedangkan linguistik mendekati dan memandang bahasa sebagai bahasa atau wujud bahasa itu sendiri.

Buku Linguistik Umum karya Abdul Chaer ini membahas lengkap seluk beluk Linguistik. Buku ini terdiri atas beberapa bab berikut ini.

Bab V. Sintaksis (Kata, Frase, Klausa, Kalimat, dan Wacana)


Download Resume Buku Linguistik Umum Karya Abdul Chaer
DOWNLOAD

Posted By Pak3Haryanto2:08 PM