Wednesday, April 2, 2014

Bantuan: Pengucapan Alfabet Fonetis Internasional

Halaman ini merinci bantuan pengucapan yang dituliskan dalam notasi Alfabet Fonetis Internasional (International Phonetic Alphabet, IPA).
Bunyi vokal diurutkan berdasarkan posisi lidah, sedangkan konsonan diurutkan berdasarkan cara pengucapan. Setiap fonem dilambangkan dengan simbol yang berdasar pada IPA. Di samping itu, dipaparkan huruf Latin yang sepadan dengan fonem yang dimaksud, dan penggunaannya tergantung pada bahasa dan negara.
 

Posted By Pak3Haryanto11:11 PM

Alfabet Fonetis Internasional

Alfabet Fonetis Internasional (Inggris: International Phonetic Alphabet) adalah sebuah sistem notasi fonetis, yaitu kumpulan dari tanda yang dengannya semua bahasa manusia dapat ditulis dan dijelaskan. Notasi ini dikembangkan dan dirancang oleh Perhimpunan Fonetis International dan adalah sistem Notasi Fonetis yang paling tua dan paling luas digunakan.
Lambang lambang dari IPA menggunakan lambang dari dari Alfabet Latin dan Alfabet Yunani, sebagian di antaranya diubah sedikit. Setiap simbol mengacu kepada suatu suara spesifik yang membedakan sebuah kata di dalam sebuah bahasa dengan kata lainnya. Alfabet Fonetis Internasional mencakup segala bahasa, dan ini membawa pada kenyataan bahwa pemetaan dari sebuah lambang kepada sebuah suara tidak sepenuhnya mirip dengan pemetaan suara pada bahasa lain yang di dalam kosa-abjadnya mempunyai lambang yang sama di dalam IPA.

Posted By Pak3Haryanto10:57 PM

Tuesday, April 1, 2014

Sintaksis (Linguistik Umum bag. 5)

1. Strutur Sintaksis
Dalam pembicaraan struktur sintaksis, pertama-tama dibicarakan masalah fungsi sintaksis, kategori sintaksis, dan peran sintaksis. Istilah subjek, predikat, objek, dan keterangan adalah peristilahan yang berkenaan dengan fungsi sintaksis. Istilah nomina, verba, ajektifa, dan numeralia adalah peristilahan yang berkenaan dengan kategori sintaksis. Istilah perilaku penderita, dan penerima adalah peristilahan yang berkenaan dengan peran sintaksis.

2. Kata Sebagai Satuan Sintaksis
Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar; tetapi dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, dibedakan adanya kata penuh (fullword) dan kata tugas (functionword). Kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, verba, akjetifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan kata tugas adalah kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.

3. Frase

Dalam sejarah studi linguistik istilah frase banyak digunakan dengan pengertian yang berbeda-beda.
a.Pengertian Frase
Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Frase berupa morfem bebas, bukan morfem terikat. Frase bersifat nonprediktif, artinya hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek-predikat atau predikat-objek.

b. Jenis Frase

Frase dibedakan atas (1) frase ekosentrik, (2) frase endosentrik, (3) frase koordinatif, dan (4) frase apositif.

1) Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Frase eksosentrik biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif dan frase eksosentrik yang nondirektif. Frase eksosentrik yang direktif komponen pertamanya berupa preposisi, seperti di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina. Karena komponen utamanya berupa preposisi, maka frase eksosentrik yang direktif ini lazim juga disebut frase preposisional.

Frase eksosentrik yang nondirektif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti si dan sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum; sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, atau verba.

2) Frase Endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Frase endosentrik ini lazim juga disebut + karena komponen keduanya, yaitu komponen yang bukan inti atau hulu (Inggris head) mengubah atau membatasi makna komponen inti atau hulu itu. Selain itu, frase endosentrik ini lazim juga disebut frase subordinat karena salah satu komponennya, yaitu yang merupakan inti frase berlaku sebagai komponen atasan, sedangkan komponen lainnya, yaitu komponen yang membatasi, berlaku sebagai komponen bawahan.

Dilihat dari kategori intinya dapat dibedakan adanya frase nominal, frase verbal, frase ejektival, dan frase numeral. Yang dimaksud frase nominal adalah frase endosentrik yang intinya berupa nomina atau pronomina. Frase nominal ini di dalam sintaksis dapat menggantikan kedudukan kata nominal sebagai pengisi salah satu fungsi sintaksis. Yang dimaksud frase verbal adalah frase endosentrik yang intinya berupa kata verba; maka oleh karena itu, frase ini dapat menggantikan kedudukan kata verbal di dalam sintaksis. Yang dimaksud frase ajektifa adalah frase endosentrik yang intinya berupa kata ajektifa. Yang dimaksud frase numeral adalah frase endosentrik yang intinya berupa kata numeral.

3) Frase Koordinatif
Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama atau sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik ... baik, makin ... makin, baik ... maupun .... Frase koordinatif ini mempunyai kategori sesuai dengan kategori komponen pembentuknya. Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit, biasanya disebut frase parataksis.

4) Frase Apositif
Frase apositif adalah frase koordinatifyang kedua komponennya merujuk sesamanya; dan oleh karena itu, urutan komponennya dapat dipertukarkan. Misalnya:

  • Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali. 
  • Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali.

c. Perluasan Frase
Salah satu ciri frase adalah bahwa frase itu dapat diperluas. Maksudnya frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Dalam bahasa Indonesia perluasan frase ini tampaknya sangat produktif. Hal ini karena untuk menyatakan konsep-konsep khusus, atau sangat khusus, atau sangat khusus sekali, biasanya diterangkan secara leksikal.

4. Klausa
Klausa merupakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat.
a. Pengertian Klausa
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai subjek, predikat, objek, atau keterangan. Fungsi subjek dan predikat boleh dikatakan wajib, sedangkan fungsi lain bersifat tidak lain.

b. Jenis Klausa
Jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori segmental yang menjadi predikatnya. Berdasarkan strukturnya dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya subjek dan predikat. Sedangkan klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap, mungkin hanya subjeknya saja atau predikatnya saja, atau mungkin keterangan saja.

Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektifal, kalusa adverbial, dan klausal preposisional. Klausa verbal adalah kalusa yang predikatnya berkategori verba. Misalnya, matahari terbit atau kakek makan. Kalusa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia. Misalnya, bandelnya teramat sangat.

Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berkategori preposisi. Misalnya, ayah ke pasar baru. Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa numeralia. Miaslnya, gajinya lima juta sebulan.

5. Kalimat
Kalimat merupakan satuan bahasa yang ”langsung” digunakan sebagai satuan ujaran di dalam komunikasi verbal.

a. Pengertian Kalimat

  • Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. 
  • Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.
b. Jenis Kalimat
Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang. Jenis-jenis kalimat yaitu:

  1. kalimat inti dan kalimat non-inti 
  2. kalimat tunggal an kalimat majemuk 
  3. kalimat mayor dan kalimat minor 
  4. Kalimat verbal dan kalimat non-verbal 
  5. kalimat bebas dan kalimat terikat

c. Intonasi kalimat
Intonasi merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting. Intonasi dapat berwujud nada, tekanan, dan tempo. Dalam bahasa Indonesia, intonasi tidak berlaku pada tataran fonologi danmorfologi, melainkan hanya berlakuk pada tataran sintaksis. Tekanan yang berbeda akan menyebabkan intonasi yang berbeda, akibatnya makna keseluruhan kalimat pun akan berbeda.

d. Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis
Modus adalah penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara, atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Ada beberapa macam modus, yaitu:

  • Modus indikatif atau modus deklaratif, yaitu modus yang menunjukkan sikap objektif atau netral. 
  • Modus optatif, yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan. 
  • Modus imperatif, yaitu modus yang menyatakan perintah dan larangan. 
  • Modus interogatif, yaitu modus yang menyatakan pertanyaan. 
  • Modus obligatif, yaitu modus yang menyatakan keharusan. 
  • Modus desideratif, yaitu modus yang menyatakan keinginan. 
  • Modus kondisional, yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Macam aspek yaitu:

  • Aspek kontinuatif, yaitu yang menyatakan perbuatan yang terus berlangsung. 
  • Aspek inseptif, yaitu yang menyatakan peristiwa baru terjadi. 
  • Aspek progresif, yaitu yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung. 
  • Aspek repetitif, yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang. 
  • Aspek perfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai. 
  • Aspek imperfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar. 
  • Aspek sesatif, yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir.

Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.. Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan. Sikap ini dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, dan keizinan.

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pemabaca tertuju pada bagian itu. dalam bahasa Indonesia, fokus kalimat dapat dilakukan dengan cara:

  • Memberi tekanan pada bagian kalimat yang difokuskan. 
  • Mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan. 
  • Memakai partikel pun, yang, tentang, dan adalah. 
  • Mengontraskan dua bagian kalimat.

Diatesis adalah gamabaran hubungan antara pelaku dan peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu. macam diatesis yaitu:

  • Diatesis aktif, yaitu subjek yang berbuat 
  • Diatesis pasif, subjek menjadi sasaran perbuatan 
  • Diatesis refleksif, subjek berbuat terhadap dirinya sendiri 
  • Diatesis resiprokal, subjek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan yang berbalasan. 
  • Diatesis kausatif, subjek menjadi penyebab terjadinya sesuatu

6. Wacana
Kalimat atau kalimat-kalimat hanyalah unsur pembentuk satuan bahasa yang lebih besar yang disebut wacana.

a. Pengertian Wacana
Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap, sehingga dalam hierarkial gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu terdapat konsep yang utuh yang bisa dipahami oleh pembaca atau pendengar. Sebagai satuan gramatikal tertinggi, wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal.

b. Alat-alat Wacana
Alat-alat gramatikal yang digunakan untuk membuat wacana menjadi kohesif, antara lain:

  • Konjungsi 
  • Kata ganti 
  • Elipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama.
Selain gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koherensif dapat dibuat dengan bantuan berbagai aspek semantik, antara lain:

  • Menggunakan hubungan pertentangan 
  • Menggunakan hubungan generik-spesifik 
  • Menggunakan hubungan perbandingan 
  • Menggunakan hubungan sebab-akibat 
  • Menggunakan hubungan tujuan 
  • Menggunakan hubungan rujukan yang sama
c. Jenis Wacana
Jenis wacana ada wacana lisan dan wacana tulis berkenaan dengan sasarannya. Kemudian ada pembagian wacana prosa dan wacana puisi dilihat dari pengguanaan bahasa apakah dalam bentuk uraian atau puitik. Wacana prosa dilihat dari isinya dibedakan adanya wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi, dan wacana argumentasi.



Referensi:Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta



Download Resume Buku Linguistik Umum 
Karya Abdul Chaer

Posted By Pak3Haryanto2:41 PM

Morfologi: Morfem dan Kata (Linguistik Umum bag. 4)

A. Morfem
Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

1. Identifikasi Morfem
Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem. Sebagai contoh kita ambil bentuk /kedua/. Ternyata bentuk /kedua/ dapat kita banding-bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai berikut:

  • kedua 
  • ketiga
  • kelima
  • ketujuh
Ternyata juga semua bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama, bisa disebut sebuah morfem. Jadi, kesamaan arti atau kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem.

Dalam studi morfologi suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem biasanya dilambanhkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal. Misalnya, kata Indonesia mesjid dilambangkan sebagai {mesjid}; kata kedua dilambangkan menjadi {ke} + {dua}, atau bisa juga ({ke} + {dua})

2. Morf dan Alomorf
Sudah disebutkan bahwa morfem adalah bentuk yang sama yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk lain. Sekarang perhatikan deretan bentuk berikut:

  • melihat - menyanyi 
  • merasa - menyikat 
  • membawa - menggali 
  • membantu - menggoda 
  • mendengar - mengelas 
  • menduda - mengetik
Kita lihat ada bentuk-bentuk yang mirip atau hampir sama, tetapi kita juga tahu bahwa maknanya juga sama. Bentuk-bentuk itu adalah me- pada melihat dan merasa, mem- pada membawa dan membantu, men- pada mendengar dan menduda, meny- pada menyanyi dan menyikat, meng- pada menggali dan menggoda, menge- pada mengelas dan mengetik. 


Pertanyaan kita sekarang apakah me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- itu sebuah morfem atau bukan, sebab meski maknanya sama tetapi bentuknya tidak persis sama. Pertanyaan itu bisa dijawab bahwa keenam bentuk itu adalah sebuah morfem, sebab meskipun bentuknya tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat dijelaskan secara fonologis. 


Bentuk me- berdistribusi antara lain pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /l/ dan /r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan /p/; bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /d/ dan /t/; bentuk meny- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /s/; bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /g/ dan /k/; bentuk menge- berdistribusi pada bentuk dasar yang ekasuku.

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama ini disebut alomorf. Jadi, setiap morfem tentu mempunyai alomorf, enrah satu, entah dua, atau juga enam buah seperti yang tampak pada data di atas. Selain itu, bisa juga dikatakan morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya; sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

Sehubungan dengan alomorf me-, mem-, men-, meny-, meng- , menge- muncul masalah apa nama morfem untuk alomorf-alomorf itu? dalam tata bahasa tradisional nama yang digunakan adalah awalan me- dengan penjelasan, awalan me- ini akan mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dipilih alomorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya.

3. Klasifikasi Morfem

Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria. Antara lain berdasarkan keberadaanya, keutuhannya, maknanya, dan sebagainya. Berikut ini akan dibicarakan secara singkat.

a. Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Yang dimaksud dengan morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus adalah termasuk morfem bebas. Sebaliknya, yang dimaksud morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu denganmorfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, yaitu:

  • Pertama, bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk-bentuk tersebut, meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Bentuk-bentuk ini lazim disebut prakategorial. 
  • Kedua, menurut konsep Verhaar (1978) bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk bentuk prakategorial, karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan ”pangkal” kata, sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi. Kemudian timbul pertanyaan, bukankah tanpa imbuhan apa-apa bentuk tersebut dapat muncul dalam kalimat imperatif? Menurut Verhaar, kalimat imperatif adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif. Dalam kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-, dalam kalimat deklaratif pasif harus digunakan prefiks inflektif di- atau ter-; sedangkan dalam kalimat imperatif, juga dalam kalimat pasitif, harus digunakan prefiks inflektif Ø. 
  • Ketiga, bentuk-bentuk seperti renta (yang hanya muncul dalam tua renta), kerontang (yang hanya muncul dalam kering kerontang), dan bugar (yang hanya muncul dalam segar bugar) juga termasuk morfem terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik. 
  • Keempat, bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan, kalau, dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. 
  • Kelima, yang disebut klitika merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya, apakah terikat atau bebas. Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemungkinan dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Menurut posisinya, klitika biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Yang dimaksud dengan proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti, seperti ku dan kau pada konstruksi kubawa dan kauambil. Sedangkan enklitika adalah klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati seperti -lah, -nya, dan -ku pada konstruksi dialah, duduknya, dan nasibku.

b. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Semua morfem dasar bebas yang dibicarakan di atas adalah termasuk morfem utuh, seperti {meja}, {kursi}, {kecil}, {lau}, dan {pinsil}. Begitu juga dengan sebagian morfem terikat, seperti {ter-}, {ber-}, {henti}, dan {juang}. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh yaitu {satu} dan satu morfem terbagi yaitu {ke-/-an}; perbuatan terdiri dari satu morfem utuh {buat} dan satu morfem terbagi yaitu {per-/-an}. 



Dalam bahasa Arab dan juga bahasa Ibrani, semua morfem akar verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsonan yang dipisahkan oleh tiga buah vokal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula. Misalnya morfem akar terbagi {k-t-b} ’tulis’ merupakan dasar untuk kata-kata:
  • kataba ’ia (laki-laki) menulis’ 
  • katabat ’ia (perempuan) menulis’ 
  • katabta ’engkau (laki-laki) menulis’ 
  • katabti ’engkau (perempuan) menulis’  
  • katabtu ’saya menulis’ 
  • maktabun ’kantor, toko buku, perpustakaan’
Sehubungan dengan morfem terbagi ini, untuk bahasa Indonesia ada catatan yang perlu diperhatikan, yaitu:
  • Pertama, semua afiks yang disebut konfiks seperti {ke-/-an}, {ber-/-an}, {per-/-an}, dan {pe-/-an} adalah termasuk morfem terbagi. Namun bentuk {ber-/-an} bisa merupakan konfiks pada bermunculan ’banyak yang tiba-tiba muncul’, dan bermusuhan ’saling memusuhi’, tetapi bisa juga bukan konfiks, seperti pada beraturan ’mempunyai aturan’ dan berpakaian ’mengenakan pakaian’. Untuk menentukan apakah bentuk {ber-/-an} konfiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandangnya. 
  • Kedua, dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks, yakni afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar. Misalnya, infiks {-er-} pada kata gerigi, infiks {-el-} pada kata pelatuk, dan infiks {-em-} pada kata gemetar. Memang dalam bahasa Indonesia infiks ini tidak produktif, tetapi dalam bahasa Sunda morfem infiks ini sangat produktif, artinya bisa dikenakan pada kata apa saja.
c. Morfem Segmental dan Suprasegmental
Perbedaan morfem segmental dan suprasegmental berdasarkan jenis fonem yang membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}. Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmenntal seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya, dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara di benua Afrika, setiap verba selalu disertai dengan petunjuk kala (tense) yang berupa nada.

d. Morfem Beralomorf Zero
Dalam linguistik deskriptif, ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa ”kekosongan”.

  • Bentuk tunggal : I have a book ; I have a sheep 
  • Bentuk jamak : I have two books ; I have two sheep
  • Kata kini : They call me; They hit me
  • Kata lampau : They called me ; They hit me

Bentuk tunggal untuk book adalah books dan bentuk jamaknya adalah books; bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga. Karena bentuk jamak untuk books terdiri dari dua buah morfem, yaitu morfem {book} dan morfem {-s}, maka dipastikan bentuk jamak untuk sheep adalah morfem {sheep} dan morfem {Ø}. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa {Ø} merupakan salah satu alomorf dari morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris.

e. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem tak Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa dulu berproses dengan morfem lain. Misalnya, {kuda}, {lari}, dan {merah}. Sebaliknya, morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. Misalnya, afiks {ber-}, {me-}, dan {ter-}.

4. Morfem Dasar, Dasar, Pangkal, dan Akar
Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya, bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks infleksi. Misalnya, dalam bahasa Inggris kata books pangkalnya adalah book. Dalam bahasa Indonesia, kata menangisi pangkalnya adalah tangisi.

Akar atau (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Misalnya, kata Inggris untouchables akarnya adalah touch.

 

B. Kata
Yang ada dalam tata bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dinicarakan adalah kata. Apakah kata itu, bagaimana kaitannya dengan morfem, bagaimana klasifikasinya, serta bagaimana pembentukannya, akan dibicarakan berikut ini.

1. Hakikat Kata
Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Para tata bahasawan struktural, terutama penganut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan lingual; dan menggantinya dengan satuan yang disebut morfem. Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh kelompok Bloomfield karena dalam analisis bahasa, mereka melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, morfem, dan kalimat.

2. Klasifikasi Kata
Para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi dalam mengklasifikasikan kata. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa; sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, asverbia, pronomina, dan lain-lainnya. Yang disebut verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan; yang disebut nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan; konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata.

Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi. Misalnya, yang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukan; verba adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak; sedangkan ajektifa adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat.

3. Pembentukan Kata
Untuk dapat digunakan dalam suatu kalimat, maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal melalui proses afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.
a. Inflektif
Kata-kata dalam bahasa berfleksi, seperti bahasa Arab, bahasa Latin, dan bahasa Sansekerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konyugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

b. Deviratif
Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru atau kata lain yang berbeda identitasnya dengan bentuk dasarnya; sedangkan pembentukan kata secara deviratif membentuk kata baru atau kata yang bentuk leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya. Misalnya, dari kata Inggris sing ’menyanyi’ terbentuk kata singer ’penyanyi’. Antara sing dan singer berbeda identitas leksikalnya, sebab selain maknanya berbeda, kelasnya juga berbeda; sing berkelas verba sedangkan singer berkelas nomina.

3. Proses Morfemis
Berikut ini akan dibicarakan proses-proses morfemis yang berkenaan dengan afiksasi, reduplikasi, komposisi, konversi, dan modifikasi intern.
a. Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.

Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar dibedakan adanya prefiks, infiks, konfiks, interfiks, dan transfiks.

  • Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar : me- pada kata menghibur  
  • Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar : -el- pada kata telunjuk 
  • Sufiks : afiks yang diimbuhkan di belakang bentuk dasar : -an pada kata bagian  
  • Konfiks : afiks yang berupa morfem terbagi yang berposisi di muka dan belakang bentuk dasar : ke-/-an pada kata keterangan 
  • Interfiks sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua unsur : Stern (unsur 1) + Banner (unsur 2) → Stern.en.banner (bahasa Indo German)
  • Transfiks : sfiks yang berwujud vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar : k-t-b ’tulis’ (dasar dalam bahasa Arab) : kitab ’buku’, maktaba ’toko buku’

b. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar. Dibedakan adanya reduplikasi penuh, seperti meja-meja, reduplikasi sebagian, seperti lelaki, dan reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik. Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional dan dapat pula bersifat devirasional. Reduplikasi yang infleksional tidak mengubah identitas leksikal, melainkan hanya memberi makna gramatikal. Misalnya, meja-meja berarti ’banyak meja’. Yang bersifat devirasioanal membentuk kata baru. Misalnya, kata laba-laba dan pura-pura.

c. Komposisi
Komposisi adalah proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda. Misalnya, lalu lintas, daya juang, dan rumah sakit. Produktifnya proses komposisi dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah, antara lain masalah kata majemuk, aneksi, dan frase.

Kata majemuk adalah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan dari makna unsur-unsurnya. Misalnya, kumis kucing ’sejenis tumbuhan’, mata sapi ’telur yang digoreng tanpa dihancurkan’, dan mata hati.

d. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi
Konversi, sering juga disebut devirasi zero, transmutasi, dan transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Misalnya, kata cangkul dalam kalimat Ayah membeli cangkul baru adalah nomina; sedangkan dalam kalimat Cangkul dulu baik-baik baru ditanami adalah sebuah verba.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan). Misalnya, dalam bahasa Arab morfem dasar dengan kerangka k-t-b ’tulis’.

  • katab ’dia laki-laki menulis’
  • maktub ’sudah ditulis’
  • maktaba ’toko buku’
Ada sejenis modifikasi internal yang disebut suplesi. Dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar hampir atau tidak tampak lagi. Misalnya, kata Inggris go yang menjadi went; atau verba be manjadi was atau were.

e. Pemendekan
Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tertapi maknanya tetap sama. Misalnya, bentuk lab (utuhnya laboratorium), hlm (halaman), dan SD (Sekolah Dasar). Pemendekan ini mengahsilkan singkatan. Selain singkatan, ada akronim, yaitu hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Misalnya, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), inpres (instruksi presiden), dan wagub (wakil gurbernur).

4. Morfofonemik
Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologi. Misalnya, prefiks me- berubah menjadi mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Perubahan fonem dalam proses morfofonemik dapat berwujud:

  • Pemunculan fonem : me- + baca → membaca 
  • Pelesapan fonem : sejarah + -wan → sejarawan 
  • Peluluhan fonem : me- + sikat → menyikat 
  • Perubahan fonem : ber- + ajar → belajar  
  • Pergeseran fonem : ja.wab + an → ja.wa.ban


Referensi:Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Download Resume Buku Linguistik Umum 
Karya Abdul Chaer

Posted By Pak3Haryanto2:34 PM