
A. Morfem
Tata bahasa
tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem
bukan merupakan satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morfem mempunyai
makna secara filosofis.
1. Identifikasi Morfem
Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita
harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan
bentuk-bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara
berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah
morfem. Sebagai contoh kita ambil bentuk /kedua/. Ternyata bentuk
/kedua/ dapat kita banding-bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai
berikut:
- kedua
- ketiga
- kelima
- ketujuh
Ternyata juga semua bentuk ke
pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan
yang mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat.
Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas, karena merupakan bentuk
terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama, bisa disebut
sebuah morfem. Jadi, kesamaan arti atau kesamaan bentuk merupakan ciri
atau identitas sebuah morfem.
Dalam studi morfologi
suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem biasanya dilambanhkan
dengan mengapitnya di antara kurung kurawal. Misalnya, kata Indonesia
mesjid dilambangkan sebagai {mesjid}; kata kedua dilambangkan menjadi
{ke} + {dua}, atau bisa juga ({ke} + {dua})
2. Morf dan Alomorf
Sudah disebutkan bahwa morfem adalah bentuk yang sama yang
terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk lain. Sekarang perhatikan
deretan bentuk berikut:
- melihat - menyanyi
- merasa - menyikat
- membawa - menggali
- membantu - menggoda
- mendengar - mengelas
- menduda - mengetik
Kita lihat ada bentuk-bentuk
yang mirip atau hampir sama, tetapi kita juga tahu bahwa maknanya juga
sama. Bentuk-bentuk itu adalah me- pada melihat dan merasa, mem- pada
membawa dan membantu, men- pada mendengar dan menduda, meny- pada
menyanyi dan menyikat, meng- pada menggali dan menggoda, menge- pada
mengelas dan mengetik.
Pertanyaan kita sekarang apakah me-,
mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- itu sebuah morfem atau bukan, sebab
meski maknanya sama tetapi bentuknya tidak persis sama. Pertanyaan itu
bisa dijawab bahwa keenam bentuk itu adalah sebuah morfem, sebab
meskipun bentuknya tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat
dijelaskan secara fonologis.
Bentuk me- berdistribusi antara lain
pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /l/ dan /r/; bentuk mem-
berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan /p/;
bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan
/d/ dan /t/; bentuk meny- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem
awalnya konsonan /s/; bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang
fonem awalnya konsonan /g/ dan /k/; bentuk menge- berdistribusi pada
bentuk dasar yang ekasuku.
Bentuk-bentuk realisasi
yang berlainan dari morfem yang sama ini disebut alomorf. Jadi, setiap
morfem tentu mempunyai alomorf, enrah satu, entah dua, atau juga enam
buah seperti yang tampak pada data di atas. Selain itu, bisa juga
dikatakan morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang
sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui
statusnya; sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau
sudah diketahui status morfemnya.
Sehubungan dengan
alomorf me-, mem-, men-, meny-, meng- , menge- muncul masalah apa nama
morfem untuk alomorf-alomorf itu? dalam tata bahasa tradisional nama
yang digunakan adalah awalan me- dengan penjelasan, awalan me- ini akan
mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Dalam buku Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia dipilih alomorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan
alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya.
3. Klasifikasi Morfem
Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan
berdasarkan beberapa kriteria. Antara lain berdasarkan keberadaanya,
keutuhannya, maknanya, dan sebagainya. Berikut ini akan dibicarakan
secara singkat.
a. Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Yang dimaksud dengan morfem bebas adalah morfem yang tanpa
kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Dalam bahasa
Indonesia, misalnya, bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus adalah
termasuk morfem bebas. Sebaliknya, yang dimaksud morfem terikat adalah
morfem yang tanpa digabung dulu denganmorfem lain tidak dapat muncul
dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem
terikat.
Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, yaitu:
- Pertama, bentuk-bentuk
seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat,
karena bentuk-bentuk tersebut, meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul
dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi
seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Bentuk-bentuk ini lazim
disebut prakategorial.
- Kedua, menurut konsep Verhaar (1978) bentuk-bentuk
seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk bentuk prakategorial,
karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan ”pangkal” kata, sehingga
baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.
Kemudian timbul pertanyaan, bukankah tanpa imbuhan apa-apa bentuk
tersebut dapat muncul dalam kalimat imperatif? Menurut Verhaar, kalimat
imperatif adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif. Dalam kalimat
deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-, dalam kalimat
deklaratif pasif harus digunakan prefiks inflektif di- atau ter-;
sedangkan dalam kalimat imperatif, juga dalam kalimat pasitif, harus
digunakan prefiks inflektif Ø.
- Ketiga, bentuk-bentuk seperti renta (yang hanya muncul
dalam tua renta), kerontang (yang hanya muncul dalam kering kerontang),
dan bugar (yang hanya muncul dalam segar bugar) juga termasuk morfem
terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka
bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik.
- Keempat, bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan
konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan, kalau, dan atau secara
morfologis termasuk morfem bebas tetapi secara sintaksis merupakan
bentuk terikat.
- Kelima, yang disebut klitika merupakan morfem yang
agak sukar ditentukan statusnya, apakah terikat atau bebas. Klitika
adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara
fonologis tidak mendapat tekanan, kemungkinan dalam pertuturan selalu
melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Menurut posisinya,
klitika biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Yang dimaksud
dengan proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang
diikuti, seperti ku dan kau pada konstruksi kubawa dan kauambil.
Sedangkan enklitika adalah klitika yang berposisi di belakang kata yang
dilekati seperti -lah, -nya, dan -ku pada konstruksi dialah, duduknya,
dan nasibku.
b. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Semua morfem dasar bebas yang dibicarakan di atas adalah
termasuk morfem utuh, seperti {meja}, {kursi}, {kecil}, {lau}, dan
{pinsil}. Begitu juga dengan sebagian morfem terikat, seperti {ter-},
{ber-}, {henti}, dan {juang}. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah
morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada
kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh yaitu {satu} dan satu
morfem terbagi yaitu {ke-/-an}; perbuatan terdiri dari satu morfem utuh
{buat} dan satu morfem terbagi yaitu {per-/-an}.
Dalam bahasa Arab dan juga bahasa
Ibrani, semua morfem akar verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas
tiga buah konsonan yang dipisahkan oleh tiga buah vokal, yang merupakan
morfem terikat yang terbagi pula. Misalnya morfem akar terbagi {k-t-b}
’tulis’ merupakan dasar untuk kata-kata:
- kataba ’ia (laki-laki) menulis’
- katabat ’ia (perempuan) menulis’
- katabta ’engkau (laki-laki) menulis’
- katabti ’engkau (perempuan) menulis’
- katabtu ’saya menulis’
- maktabun ’kantor, toko buku, perpustakaan’
Sehubungan dengan morfem terbagi ini, untuk bahasa Indonesia ada catatan yang perlu diperhatikan, yaitu:
- Pertama,
semua afiks yang disebut konfiks seperti {ke-/-an}, {ber-/-an},
{per-/-an}, dan {pe-/-an} adalah termasuk morfem terbagi. Namun bentuk
{ber-/-an} bisa merupakan konfiks pada bermunculan ’banyak yang
tiba-tiba muncul’, dan bermusuhan ’saling memusuhi’, tetapi bisa juga
bukan konfiks, seperti pada beraturan ’mempunyai aturan’ dan berpakaian
’mengenakan pakaian’. Untuk menentukan apakah bentuk {ber-/-an} konfiks
atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandangnya.
- Kedua, dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut
infiks, yakni afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar. Misalnya,
infiks {-er-} pada kata gerigi, infiks {-el-} pada kata pelatuk, dan
infiks {-em-} pada kata gemetar. Memang dalam bahasa Indonesia infiks
ini tidak produktif, tetapi dalam bahasa Sunda morfem infiks ini sangat
produktif, artinya bisa dikenakan pada kata apa saja.
c. Morfem Segmental dan Suprasegmental
Perbedaan morfem segmental dan suprasegmental berdasarkan
jenis fonem yang membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang
dibentuk oleh fonem-fonem segmental seperti morfem {lihat}, {lah},
{sikat}, dan {ber}. Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem
segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk
oleh unsur-unsur suprasegmenntal seperti tekanan, nada, durasi, dan
sebagainya. Misalnya, dalam bahasa Ngbaka di Kongo Utara di benua
Afrika, setiap verba selalu disertai dengan petunjuk kala (tense) yang
berupa nada.
d. Morfem Beralomorf Zero
Dalam linguistik deskriptif, ada konsep mengenai morfem beralomorf
zero atau nol (lambangnya berupa Ø), yaitu morfem yang salah satu
alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur
suprasegmental), melainkan berupa ”kekosongan”.
- Bentuk tunggal : I have a book ; I have a sheep
- Bentuk jamak : I have two books ; I have two sheep
- Kata kini : They call me; They hit me
- Kata lampau : They called me ; They hit me
Bentuk tunggal untuk book adalah books dan bentuk jamaknya adalah books; bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga. Karena bentuk jamak untuk books terdiri dari dua buah morfem, yaitu morfem {book} dan morfem {-s}, maka dipastikan bentuk jamak untuk sheep adalah
morfem {sheep} dan morfem {Ø}. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa {Ø}
merupakan salah satu alomorf dari morfem penanda jamak dalam bahasa
Inggris.
e. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem tak Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara
inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa dulu berproses
dengan morfem lain. Misalnya, {kuda}, {lari}, dan {merah}. Sebaliknya,
morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya
sendiri. Misalnya, afiks {ber-}, {me-}, dan {ter-}.
4. Morfem Dasar, Dasar, Pangkal, dan Akar
Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau
dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya, bisa diberi afiks
tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses
reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses
morfologi.
Istilah pangkal (stem) digunakan untuk
menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan
afiks infleksi. Misalnya, dalam bahasa Inggris kata books pangkalnya adalah book. Dalam bahasa Indonesia, kata menangisi pangkalnya adalah tangisi.
Akar atau (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Misalnya, kata Inggris untouchables akarnya adalah touch.
B. Kata
Yang ada
dalam tata bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu
dinicarakan adalah kata. Apakah kata itu, bagaimana kaitannya dengan
morfem, bagaimana klasifikasinya, serta bagaimana pembentukannya, akan
dibicarakan berikut ini.
1. Hakikat Kata
Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang
memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit
oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Para tata bahasawan
struktural, terutama penganut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan
kata sebagai satuan lingual; dan menggantinya dengan satuan yang
disebut morfem. Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh
kelompok Bloomfield karena dalam analisis bahasa, mereka melihat
hierarki bahasa sebagai: fonem, morfem, dan kalimat.
2. Klasifikasi Kata
Para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan
kriteria fungsi dalam mengklasifikasikan kata. Kriteria makna digunakan
untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa; sedangkan
kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi,
konjungsi, asverbia, pronomina, dan lain-lainnya. Yang disebut verba
adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan; yang disebut nomina
adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan; konjungsi
adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata.
Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata
berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi.
Misalnya, yang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di
belakang kata bukan; verba adalah kata yang dapat berdistribusi di
belakang kata tidak; sedangkan ajektifa adalah kata yang dapat
berdistribusi di belakang kata sangat.
3. Pembentukan Kata
Untuk dapat digunakan dalam suatu kalimat, maka setiap bentuk
dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih
dahulu menjadi sebuah kata gramatikal melalui proses afiksasi,
reduplikasi, maupun komposisi.
a. Inflektif
Kata-kata dalam bahasa berfleksi, seperti bahasa Arab, bahasa Latin,
dan bahasa Sansekerta, untuk dapat digunakan di dalam kalimat harus
disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang
berlaku dalam bahasa itu. perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba
disebut konyugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan
ajektifa disebut deklinasi.
b. Deviratif
Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru
atau kata lain yang berbeda identitasnya dengan bentuk dasarnya;
sedangkan pembentukan kata secara deviratif membentuk kata baru atau
kata yang bentuk leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.
Misalnya, dari kata Inggris sing ’menyanyi’ terbentuk kata singer
’penyanyi’. Antara sing dan singer berbeda identitas leksikalnya, sebab
selain maknanya berbeda, kelasnya juga berbeda; sing berkelas verba
sedangkan singer berkelas nomina.
3. Proses Morfemis
Berikut ini akan dibicarakan proses-proses morfemis yang
berkenaan dengan afiksasi, reduplikasi, komposisi, konversi, dan
modifikasi intern.
a. Afiksasi
Afiksasi
adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah bentuk dasar. Dalam proses
ini terlibat unsur-unsur (1) bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna
gramatikal yang dihasilkan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa
morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses
pembentukan kata.
Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar dibedakan adanya prefiks, infiks, konfiks, interfiks, dan transfiks.
- Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar : me- pada kata menghibur
- Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar : -el- pada kata telunjuk
- Sufiks : afiks yang diimbuhkan di belakang bentuk dasar : -an pada kata bagian
- Konfiks : afiks yang berupa morfem terbagi yang berposisi di muka dan belakang bentuk dasar : ke-/-an pada kata keterangan
- Interfiks sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua unsur : Stern (unsur 1) + Banner (unsur 2) → Stern.en.banner (bahasa Indo German)
- Transfiks : sfiks yang berwujud vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar : k-t-b ’tulis’ (dasar dalam bahasa Arab) : kitab ’buku’, maktaba ’toko buku’
b. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar.
Dibedakan adanya reduplikasi penuh, seperti meja-meja, reduplikasi
sebagian, seperti lelaki, dan reduplikasi dengan perubahan bunyi,
seperti bolak-balik. Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis
(infleksional dan dapat pula bersifat devirasional. Reduplikasi yang
infleksional tidak mengubah identitas leksikal, melainkan hanya memberi
makna gramatikal. Misalnya, meja-meja berarti ’banyak meja’. Yang
bersifat devirasioanal membentuk kata baru. Misalnya, kata laba-laba dan
pura-pura.
c. Komposisi
Komposisi
adalah proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang
bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang
memiliki identitas leksikal yang berbeda. Misalnya, lalu lintas, daya
juang, dan rumah sakit. Produktifnya proses komposisi dalam bahasa
Indonesia menimbulkan berbagai masalah, antara lain masalah kata
majemuk, aneksi, dan frase.
Kata majemuk adalah kata
yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan dari makna
unsur-unsurnya. Misalnya, kumis kucing ’sejenis tumbuhan’, mata sapi
’telur yang digoreng tanpa dihancurkan’, dan mata hati.
d. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi
Konversi, sering juga disebut devirasi zero, transmutasi, dan
transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi
kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Misalnya, kata cangkul dalam
kalimat Ayah membeli cangkul baru adalah nomina; sedangkan dalam kalimat
Cangkul dulu baik-baik baru ditanami adalah sebuah verba.
Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan
unsur-unsur (biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka
tetap (biasanya berupa konsonan). Misalnya, dalam bahasa Arab morfem
dasar dengan kerangka k-t-b ’tulis’.
- katab ’dia laki-laki menulis’
- maktub ’sudah ditulis’
- maktaba ’toko buku’
Ada sejenis modifikasi internal
yang disebut suplesi. Dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem
karena ciri-ciri bentuk dasar hampir atau tidak tampak lagi. Misalnya,
kata Inggris go yang menjadi went; atau verba be manjadi was atau were.
e. Pemendekan
Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau
gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tertapi maknanya
tetap sama. Misalnya, bentuk lab (utuhnya laboratorium), hlm (halaman),
dan SD (Sekolah Dasar). Pemendekan ini mengahsilkan singkatan. Selain
singkatan, ada akronim, yaitu hasil pemendekan yang berupa kata atau
dapat dilafalkan sebagai kata. Misalnya, ABRI (Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia), inpres (instruksi presiden), dan wagub (wakil
gurbernur).
4. Morfofonemik
Morfofonemik,
disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, adalah
peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologi.
Misalnya, prefiks me- berubah menjadi mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Perubahan fonem dalam proses morfofonemik dapat berwujud:
- Pemunculan fonem : me- + baca → membaca
- Pelesapan fonem : sejarah + -wan → sejarawan
- Peluluhan fonem : me- + sikat → menyikat
- Perubahan fonem : ber- + ajar → belajar
- Pergeseran fonem : ja.wab + an → ja.wa.ban
Posted By Pak3Haryanto2:34 PM