Showing posts with label Fonologi. Show all posts
Showing posts with label Fonologi. Show all posts

Friday, April 4, 2014

Fonologi

Filled under:

FONOLOGI DAN BIDANG PEMBAHASANNYA

Pengertian Fonologi

Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.

 

Bidang Pembahasannya

Fonologi mempunyai dua cabang kajian,
Pertama, fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:
a)     fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.
b)     fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya.
c)      fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.
Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.
Kedua, fonemik yaitu  kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

Kedudukan Fonologi dalam Cabang-cabang Linguistik

Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguitik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dan semantik.
1.  Fonologi dalam cabang Morfologi
Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks   {-kan}.
2.  Fonologi dalam cabang Sintaksis
Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu berdiri? (kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia.
3. Fonologi dalam cabang Semantik
Bidang semantik, yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan, dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna. Hasil analisis fonologislah yang membantunya.

Manfaat Fonologi dalam Penyusunan Bahasa

Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsure suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jedah dan intonasi. Perlambangan unsure suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau pungtuasi.
Tata cara penulisan bunyi ujar ini bias memanfaatkan hasil kajian fonologi,terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian fonemik terhahadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis.

Posted By Pak3Haryanto10:22 PM

Kartu Animasi IPA Vokal

Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
  1.   tinggi-rendahnya posisi lidah (tinggi, sedang, rendah)
  2.   bagian lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang)
  3.   bentuk bibir pada pembentukan vokal itu (normal, bundar, lebar/terentang)
Klasifikasi vokal :
Berdasarkan bentuk bibir

· Vokal bulat → a, o, u
· Vokal lonjong → i, e
·     Berdasarkan tinggi rendah lidah
· Tinggi → i
· Tengah → e
· Bawah → a
·     Berdasarkan maju mundurnya lidah
· Depan → i, a
· Tengah → e
· Belakang → o

Untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat bagan di bawah ini:
 


Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut itulah kemudian kita memberi nama akan vokal-vokal tersebut,misalnya:
[ i ] adalah vokal depan tinggi tak bundar
[ e ] adalah vokal depan tengah tak bundar
[ ô ] adalah vokal pusaat tengah tak bundar
[ o ] adalah vokal belakang tengah bundar
[ a ] adalah vokal pusat rendah tak bundar

Posted By Pak3Haryanto8:35 PM

Thursday, April 3, 2014

Kartu Animasi IPA Konsonan



Dari peta konsonan disamping dapat kami jelaskan Bunyi-bunyi Konsonan dapat dibedakan menjadi tiga kriteria, yaitu :
1.      Berdasarkan Posisi Pita Suara.
a.      Bunyi bersuara terjadi jika pita suara terbuka sedikit lalu terjadi getaran pada pita suara itu.  b, d, g, dan c termasuk bunyi bersuara.
b.      Bunyi tidak bersuara terjadi jika pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Bunyi s, k, p, dan t termasuk bunyi tidak bersuara.
2.      Berdasarkan Tempat Artikulasi.
a.      Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Bunyi yang termasuk konsonan bilabial adalah b dan p (bunyi oral) serta m (bunyi nasal).
b.      Labiodental adalah konsonan yang terjadi pada gigi bawah yang merapat pada bibir atas. Bunyi f dan v  termasuk bunyi konsonan labiodental.
c.       Laminoalveolar yakni konsonan terjadi pada daun lidah yang menempel pada gusi. Bunyi konsonan laminoalveolar adalah t dan d.
d.      Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Bunyinya adalah k dan g .
3.      Berdasarkan Cara Artikulasi
a.      Hambat ( letupan, plosive, stop). Artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat dibelakang tempat penutupan. Kemudian penutupan dibuka secara tiba-tiba kemudian menyebabkan letupan. Bunyinya, yaitu p, b, t, d, k, dan g.
b.      Geseran atau Frikatif. Artikulator aktif medekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Bunyinya f, s, dan z.
c.       Paduan. Artikulator aktif menghambat semua aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Bunyinya adalah c dan j.
d.      Sengauan atau Nasal. Artikulator menghambat semua aliran udara melalui mulut. Tetapi membiarkannya keluar dengan bebas melalui rongga hidung. Bunyinya, m, n, dan ƞ
e.      Getaran ( Trill). Artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi terjadi berulang-ulang. Contohnya konsonan r.
f.        Sampingan (lateral). Artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contonya l.
g.      Hampiran (Aproksiman). Artikulator aktif  dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka (semi vocal). Konsonan bunyinya w dan y.

Posted By Pak3Haryanto12:00 AM

Wednesday, April 2, 2014

Kartu Animasi IPA Diftong

Di sebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan pada bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strukturnya. Namun, yang di hasilkan bukan dua bunyi, melainkan hanya semua bunyi karena berada dalam seperti satu silabel. Contoh Diftong dalam bahasa indonesia adalah /au/ seprti terdapat pada kata kerbau dan harimau. Contoh lain, bunyi /ai/ seperti terdapat pada katacukai dan landai. Apabila ada dua buah vokal berurutan, namun yang pertama terletak pada suku kata yang berlainan dari pada yang ke dua, maka di situ tidak ada diftong. Jadi, vokal /au/ dan /ai/ pada kata seperti bau  dan lain bukan diftong.
Diftong sering di bedakan berdasarkan letak dan posisi unsur-unsurnya, sehingga di bedakan adanya diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya rendah dari posisi bunyi yang kedua; sebaliknya kedua diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi  kedua. 
 

Posted By Pak3Haryanto11:49 PM

Bantuan: Pengucapan Alfabet Fonetis Internasional

Halaman ini merinci bantuan pengucapan yang dituliskan dalam notasi Alfabet Fonetis Internasional (International Phonetic Alphabet, IPA).
Bunyi vokal diurutkan berdasarkan posisi lidah, sedangkan konsonan diurutkan berdasarkan cara pengucapan. Setiap fonem dilambangkan dengan simbol yang berdasar pada IPA. Di samping itu, dipaparkan huruf Latin yang sepadan dengan fonem yang dimaksud, dan penggunaannya tergantung pada bahasa dan negara.
 

Posted By Pak3Haryanto11:11 PM