Sunday, April 5, 2015

Resensi

Pengertian Resensi
Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda resentie atau bahasa Latin recensio yang berarti ‘memeriksa kembali’. Resensi berisi ulasan, tanggapan, pertimbangan, penilaian, perbincangan, dan apresiasi seseorang terhadap sebuah karya, baik itu buku, film maupun  karya lainnya. Nah, berarti resensi tidak terbatas hanya pada kegiatan mengulas sebuah buku, tetapi resensi juga  bisa  digunakan untuk mengulas sebuah film,  karya lainnya, seperti drama, teater, atau sebuah lukisan. Namun, yang akan kita pelajari kali ini terbatas pada resensi buku, terutama buku-buku pengetahuan. 

Resensi buku itu sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan memberikan pertimbangan atau perbincangan sebuah buku yang baru diterbitkan. Resensi disebut juga timbangan buku/bedah buku. Atau, dalam bahasa Inggris, resensi adalah a book review/book report. Resensi buku bertujuan menunjukkan kepada pembaca mengenai buku yang diluncurkan. Dengan demikian, resensi buku sangat membantu pembaca untuk memiliki atau tidak buku yang diterbitkan



Manfaat Resensi
Ada beberapa manfaat  yang dapat dipetik dari kegiatan menulis  resensi, di antaranya

1.    Bahan pertimbangan
Tugas seorang penulis resensi adalah memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya yang diresensinya apakah karya tersebut perlu mendapat sambutan atau tidak. Jadi, seorang penulis resensi yang baik sangat membantu pembacanya dalam menentukan pilihan.

2.    Sarana promosi buku
Resensi buku  merupakan salah satu sarana  untuk mempromosikan buku baru yang dihasilkan oleh sebuah penerbit. Oleh karena itu, penulis resensi, selain membantu penerbit mempromosikan buku baru, juga membantu penulis atau pengarang  untuk memperkenalkan bukunya  kepada khalayak.

3.    Nilai ekonomis
Manfaat lain jika kita menulis resensi adalah kita akan mendapatkan fee/uang dari penerbit buku tersebut atau mendapatkan buku-buku terbaru terbitan penerbit tersebut jika resensi buku yang kita tulis dimuat di surat kabar atau majalah. Kita juga bisa dikenal oleh penerbit buku sehingga penerbit dapat meminta kita untuk meresensi buku lain yang akan dicetak.

4.    Pengembangan kreativitas
Manfaat yang tak kalah pentingnya dari kegiatan menulis resensi adalah kita dapat mengembangkan kreativitas menulis. Semakin sering menulis resensi, semakin terasah pula kreativitas menulisnya. Secara tidak langsung kegiatan ini pun dapat mengasah intelektual dan kemampuan membaca dan memahami isi buku secara mendalam karena kita dapat mengetahui kelemahan dan keunggulan buku tersebut.

Identifikasi Buku

Setelah kamu mengetahui manfaat berlatih menulis resensi, langkah pertama yang harus kamu lakukan untuk berlatih  menulis resensi buku adalah mengidentifikasi identitas buku. Identitas buku  yang biasanya dicantumkan dalam resensi adalah sebagai berikut

Judul
Judul buku hampir dipastikan berada di sampul atau halaman depan sebuah buku. Biasanya judul dicetak dengan huruf yang tebal dan besar serta berwarna lebih mencolok daripada tulisan lainnya, seperti nama pengarang atau penerbit.

Pengarang/penulis
Nama pengarang/penulis buku juga biasanya ada di sampul atau halaman depan sebuah buku. Umumnya nama pengarang diletakkan di halaman depan bagian atas, baik di sebelah kiri maupun kanan dengan tulisan yang tidak terlalu besar, tetapi tetap terlihat.

Penerbit
Sama halnya dengan nama pengarang/penulis. Nama penerbit juga biasanya ada di halaman depan sebuah buku. Umumnya nama penerbit diletakkan di halaman depan  bagian bawah, baik di sebelah kiri maupun kanan dengan tulisan yang tidak terlalu besar, tetapi tetap terlihat.

Tempat terbit
Informasi mengenai tempat terbit dapat ditemukan pada halaman berikutnya setelah sampul. Biasanya tempat  buku tersebut diterbitkan tidak  hanya mencantumkan nama kota/provinsinya, tetapi juga alamat tempat terbit dengan lengkap beserta nomor telepon, nomor faksimili, alamat  email, ataupun websitepenerbit.

Tahun terbit
Sama halnya dengan informasi tempat terbit. Informasi tahun buku tersebut diterbitkan pun dapat ditemukan pada halaman berikutnya setelah sampul. Ada beberapa buku yang tidak hanya menyebutkan tahun terbitnya, tetapi juga ditambah dengan bulan diterbitkannya buku tersebut, misalnya, Januari 2010.

Jumlah halaman/tebal buku
Tidak semua buku mencantumkan jumah halaman/tebal buku  pada  halaman berikutnya setelah sampul. Namun, ada beberapa buku yang mencantumkan jumlah halaman dan tebal buku di halaman berikutnya, misalnya, jumlah halaman/tebal buku: 194 dan ukuran buku: 17,6 x 25 cm.

Kualitas cetakan 
Informasi mengenai kualitas cetakan biasanya terdapat pada halaman berikutnya setelah sampul, tetapi tidak semua buku juga mencantumkannya.  Informasi yang dicantumkan adalah sudah  berapa kali buku tersebut dicetak.
Tempat terbit
Informasi mengenai tempat terbit dapat ditemukan pada halaman berikutnya setelah sampul. Biasanya tempat  buku tersebut diterbitkan tidak  hanya mencantumkan nama kota/provinsinya, tetapi juga alamat tempat terbit dengan lengkap beserta nomor telepon, nomor faksimili, alamat  email, ataupun website penerbit. 

Tahun terbit
Sama halnya dengan informasi tempat terbit. Informasi tahun buku tersebut diterbitkan pun dapat ditemukan pada halaman berikutnya setelah sampul. Ada beberapa buku yang tidak hanya menyebutkan tahun terbitnya, tetapi juga ditambah dengan bulan diterbitkannya buku tersebut, misalnya, Januari 2010.

Jumlah halaman/tebal buku
Tidak semua buku mencantumkan jumah halaman/tebal buku  pada  halaman berikutnya setelah sampul. Namun, ada beberapa buku yang mencantumkan jumlah halaman dan tebal buku di halaman berikutnya, misalnya, jumlah halaman/tebal buku: 194 dan ukuran buku: 17,6 x 25 cm.

Kualitas cetakan
Informasi mengenai kualitas cetakan biasanya terdapat pada halaman berikutnya setelah sampul, tetapi tidak semua buku juga mencantumkannya.  Informasi yang dicantumkan adalah sudah  berapa kali buku tersebut dicetak.

Merangkum Buku

Langkah berikutnya dalam berlatih menulis resensi adalah merangkum buku. Berikut ini adalah teknik merangkum buku.

1. Membaca buku minimal dua kali
Hal ini dimaksudkan agar kamu dapat  membaca buku tersebut secara kritis dan mendalam. Dengan membaca secara kritis dan mendalam kamu diharapkan dapat mengikuti alur berpikir  penulis buku. Dengan begitu kamu pun dapat menilainya dengan cerdas dan kritis untuk menemukan  kekuatan dan kelemahan buku tersebut.

2. Mencatat bagian-bagian penting dari setiap bab
Kamu dapat mencatat bagian-bagian (gagasan) penting/menarik dari setiap bab. Bagian-bagian penting tersebut tentu saja harus tetap berhubungan erat dengan judul buku atau judul bab buku tersebut. Hal ini dimaksudkan agar bagian penting yang sudah kamu catat tidak keluar  dari pembahasan buku tersebut secara umum.

3. Merangkaikan bagian penting menjadi satu ringkasan/sinopsis
Tahap selanjutnya setelah mencatat bagian penting  adalah merangkaikannya menjadi sebuah ringkasan/sinopsis. Hal yang perlu diingat ketika merangkaikannya adalah tidak asal-asalan dalam menggabung-gabungkan bagian-bagian penting  agar hasil resensimu tidak terkesan hanya menjejerkan bagian-bagian pentingnya.

4. Menyelaraskan sesuai kaidah bahasa
Tahap terakhir adalah menyelaraskannya sesuai kaidah bahasa atau Ejaan Yang Disempurnakan agar hasil resensimu menjadi sebuah karya yang apik dan berharga.

Menanggapi Isi Buku
Langkah yang tidak kalah penting dalam berlatih menulis resensi adalah menanggapi isi buku. Hal yang ditanggapi dari  sebuah buku secara berturut-turut adalah 

1. Identitas buku
Identitas buku telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Identitas buku yang dapat ditanggapi dapat dilihat dari kover/halaman depan, judul buku, pengarang/penulis, penerbit, tempat terbit, tahun terbit, jumlah halaman/tebal buku, dan kualitas cetakan. 

2. Keunggulan
Setidaknya sebuah buku memiliki keunggulan, misalnya, gaya penyampaiannya yang lugas sehingga memudahkan pembaca dalam memahami setiap gagasan penulis dalam bukunya. Atau, keunggulan buku tersebut adalah sangat detail dalam membahas masalah pokoknya.

3. Kelemahan
Ada keunggulan, tentu juga sebuah buku memiliki kelemahan, misalnya, bahasa dalam buku terlalu berbelit-belit dan banyak penggunaan ejaan yang kurang tepat. Atau, kelemahan buku tersebut adalah kurang mencantumkan data dan fakta sehingga pembahasannya kurang terpercaya.

4. Rekomendasi
Rekomendasi dimaksudkan agar pembaca resensi dapat mengetahui isi buku tersebut cocok dibaca oleh siapa, misalnya, oleh kalangan mahasiswa, akademisi, ibu rumah tangga, dan enterpreneur.

Meresensi Buku
Langkah terakhir adalah teknik menulis resensi buku, yaitu

1. Mengenali fisik buku (identitas buku)
Sebutkan identitas buku secara lengkap seperti yang telah dijelaskan di atas!

2. Mengemukakan tujuan penulisan buku
Tujuan penulisan buku adalah tujuan yang tercantum dalam buku yang akan diresensi/tujuan yang dikemukakan oleh penulis/pengarang buku.

3. Mengemukakan keunggulan dan kelemahan buku
Kemukakan keunggulan dan kelemahan buku  apa adanya sesuai dengan penilaian penulis resensi.

4. Menuliskan ikhtisar isi buku
Ikhtisar isi buku sangat penting dalam sebuah resensi agar pembaca dapat mengetahui garis besar isi buku tersebut.

5. Mengenal pasar/pembaca dari buku tersebut
Penulis resensi harus dapat menyimpulkan jenis buku yang diresensinya sehingga dapat memberikan rekomendasi mengenai  pasar/pembaca tersebut  dari kalangan mana.

Latihan Soal



Posted By Pak3Haryanto11:00 AM

Friday, March 27, 2015

Silogisme dan Entimem


Silogismes
Suatu proses penarikan simpulan secara deduktif. Silogisme termasuk penalaran deduktif secara tidak langsung karena dalam merumuskan simpulan disusun atas dua proposisi (pernyataan) yaitu premis umum dan premis khusus.
Ketentuan umum :
Premis Umum          : A = B
Premis Khusus         : C = A
Simpulan                 : C = B
Contoh:
Premis umum          : Semua pengendara sepeda motor  harus memakai helm
                                                      A                                              B
Premis Khusus         : Pahk Hamidun   pengendara sepeda motor
                                          C                                  A
Simpulan                 : Pak Hamidun   harus memakai helm
                                          C                      B
Ciri silogisme golongan adalah bahwa salah satu premis merupakan anggota premis lain. 
Silogisme Positif 
adalah silogisme yang premisnya berupa premis positif dan simpulan yang dihasilkanpun positif. 

Contoh: 
PU : Semua profesor pandai.
PK : Pak Habibi adalah profesor.
U : Pak Habibi pasti pandai.
    Silogisme Negatif      
              apabila suatu premis dalam silogisme bersifat negatif, maka simpulannya pun akan negatif. Biasanya dipakai kata tidak / bukan.
contoh:
PU : Siswa yang baik selalu mengerjakan pekerjaan rumah.
PK : Asep bukan siswa yang baik.
U : Asep tidak pernah mengerjakan PR. 
     Silogisme yang salah
a.) Terdapat 2 premis khusus 
b.) Dalam premis khusus, A tidak mejadi predikat. PU dan PK dihubungkan dengan B dan B menjadi predikat. 
PU : Semua A = B : Semua orang kaya mempunyai sikat gigi. 
PK : Semua C = B : Ayah saya mempunyai sikat gigi 
S : Semua C = A : Jadi Ayah saya orang kaya. 
c.) Jika PU hanya menyebutkan beberapa golongan. 
d.) Terdapat 2 premis yang negatif menyebabkan kesimpulan tidak dapat dipercaya.
       Silogisme Hipotesis 

PU : Jika tidak turun hujan, panen akan gagal. 
             PK : Hujan tidak turun. 
             S : Panen akan gagal. 
    Silogisme Alternatif (Disjunctive) 

PU : Ayah ada di rumah atau di kantor.
PK : Ayah ada di rumah.      
              S : Ayah tidak ada di kantor.
  Entimem
Entimem adalah silogisme yang dipendekkan. Entimem termasuk penalaran deduktif langsung karena hanya membutuhkan satu premis dalam menyusun simpulan.
Ketentuan Umum: S (C + B) karena PK (C + A)
Contoh:
Premis Umum          : Semua kepala madrasah memperhatikan anak buahnya
Premis khusus         : Drs. H. Cudlori Supaat, M. Ag. adalah kepala madrasah
Simpulan                 : Drs. H. Cudlori Supaat, M. Ag. memperhatikan anak buahnya
Entimem dari silogisme tersebut adalah:
Drs. H. Cudlori Supaat, M.Ag.   memperhatikan anak buahnya karena
                  C                                              B

Drs. H. Cudlori Supaat, M.Ag.   adalah kepala madrasah


Latihan Soal



Posted By Pak3Haryanto10:45 PM

Friday, March 13, 2015

Kalimat Aktif dan Pasif

Kalimat Aktif


Kalimat aktif adalah sebuah kalimat yang subjek (S) berperan sebagai pelaku yang secara aktif melakukan suatu tindakan yang dikemukakan dalam predikat (P) kepada objek (O)

contoh:
Ani menyirami bunga.
Ayah membeilkanku sebuah sepeda.
John merusak bukunya Andi.

Ciri-ciri kalimat aktif:

1. Pada kalimat aktif subjek melakukan suatu tindakan yang langsung mengenai objeknya.
2. Predikat kalimat aktif selalu diawali dengan imbuhan Me- atau Ber-
3. Ada kalimat aktif yang memerlukan objek
4. Ada kalimat aktif yang tidak memerlukan objek. Setelah mendapat predikat subjek ditambah pelengkap atau keterangan.
5. Kalimat Aktif memiliki pola S-P-O-K atau S-P-K

Jenis-jenis kalimat aktif:

1. Kalimat aktif Intransitive

Kalimat aktif intransitive adalah kalimat aktif yang memerlukan sebuah objek yang mendapatkan tindakan dari subjeknya.

contoh:
Ayahku memberi Andi uang saku sebesar Rp. 10.000,-
Ayahku= Subjek
Memberiku= Predikat
Objek= Andi
pada kalimat diatas, “Ayah” yang merupakan subjek melakukan tindakan kepada “Andi” yang merupakan objek.

2. Kalimat aktif ekatransitive

Kalimat ini memerlukan objek namun tidak memiliki pelengkap. Dengan kata lain, Kalimat ini hanya memiliki 3 unsur yaitu Subjek, Predikat dan Objek. 

Contoh: 
Andi membaca sebuah majalah
Ayah memperbaiki motor
Ibu menanak nasi. 

3. Kalimat aktif Intransitive

Kalimat ini objeknya tidak dimunculkan sebagai penerima perbuatan subjek. Namun biasanya kalimat ini diikuti oleh pelengkap dan keterngan.  Kalimat ini biasanya memiliki Pola S-P atau S-P-K 

Contohnya:
Iwan sedang menulis di dalam kamar.
Nenek sedang menjahit dengan sangat hati-hati.
Ani belajar dengan giat.

4. Kalimat aktif dwitransitif

Kalimat ini memiliki satu predikat  dan mengharuskan kehadiran objek dan pelengkap. kalimat aktif dwitransitif mempunyai empat unsur Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan Pelengkap (Pel). Jika salah satu dari ke empat unsur ini tidak terenuhi, maka kalimat menjadi rancu atau kehilangan makna. 

Contoh:
Ayah mengirimi uang kepada neneak setiap bulan.
Budi selalau mengunjungi ibunya yang ada di luar negeri. 
Kakakku menguras bak air seminggu sekali.

Merubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif

1. Subjek pada kalimat aktif berubah menjadi objek pada kalimat pasif.

Andi Menabrak Budi di depan ruang kelas.(Aktif)
Budi ditabrak oleh Andi di depan ruang kelas. (Pasif)

2. Predikat yang berawalan me- berubah menjadi berawalan di-/ter-

Ani mengabaikan kebun bunga yang cantik itu.(Aktif)
Kebun bunga yang cantik itu terabaikan oleh Ani. (Pasif)

3. Kalimat aktif tidak berobjek tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif.

Kalimat Pasif


Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya mendapat/dikenai suatu tindakan yang berupa predikat oleh objek.

Contoh: 
Tanaman disirami oleh ibu.
Kakak dibelikan sebuah jam tangan oleh ayah
Bajuku dicuci oleh ibu.

Ciri-ciri kalimat pasif:

1. Subjek pada kalimat aktif menjadi objek pada kalimat pasif. 

2. Predikat menggunakan awalan di-, ke-an  atau ter-

Contoh: Rumahnya terbakar oleh si jago merah.
Ruangan kelas disapu oleh kami. (aktif)
Rumahku kemasukan Maling tadi malam. (pasif) 

Kata kerja yang memiliki awalan ter- mengandung unsur ketidaksengajaan.

3. Pada umumnya kata kerja didahului dengan kata ganti orang ku- dan kau-.

Contoh: Buku itu telah kurapikan.

4. Kata “oleh” dalam kalimat pasif dapat dihilangkan dan tidak merubah makna.

contoh:
Andi ditegur oleh Ibu guru karena ribut.   (pasif)
Andi ditegur Ibu guru karena ribut.     (pasif)

Merubah kalimat pasif menjadi kalimat aktif:

1. Subjek pada kalimat pasif diubah menjadi objek pada kalimat pasif.

contoh:
Kejuaraan itu dimenangkan oleh mereka.  (pasif) 
Mereka memenangkan kejuaraan itu.    (aktif)

2. Awalan prediket di-/ter-/ke-an diubah menjadi ber-  atau me-

contoh:
Bunga itu ditanam oleh ibuku. (pasif)   
Ibu menanam bunga itu. (aktif)

3. Kata ganti ku- dirubah menjadi Aku.

contoh:
Buah itu sudah kumakan. (pasif)
aku sudah memakan buah itu. (aktif)


Latihan Soal Kalimat Aktif

Posted By Pak3Haryanto12:45 AM

Thursday, March 5, 2015

Sinonim

Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nana’, dan syn yang berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’. Sacara samantik Verhaar (1978) mendefenisikan sinonimi sebagai ungkapan (bias berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.



Contoh :
Buruk              =  jelek
Laris                =  laku
Dahaga            =  haus
Datang             =  tiba
Pintar                pandai
Usang               lama
Hancur              musnah
Pulang              kembali = balik
Masyarakat       rakyat = warga
Hadiah              =  pemberian
Pria                   laki- laki
Enak                 lezat
Tampan            ganteng
Hanjur             =  musnah
Mati                  meninggal
Dari contoh diatas dapat dilihat kata – kata bersinonim, dan tidak semua sinonim bisa dipertukarkan begitu saja.
Contoh kalimat :
Anjing meninggal ditabrak mobil
Kata meninggal pada kalimat di atas tidak tepat, karena kata meninggal lebih tepat ditujukan kepada manusia, atau kata meninggal diganti dengan kata mati. Yang lebih tepatnya anjing mati ditabrak mobil. Jadi kata sinonim bisa digunakan sesuai dengan kepada siapa yang ditujukan pembicaraan tersebut. Misalnya kata aku dan saya kedua kata tersebut bersinonim, tapi kata aku lebih tepat dipakai untuk teman sebaya, dan kata saya lebih tepat digunakan untuk orang yang lebih tua dari kita. Jadi, kata sinonim digunakan sesuai dengan waktu, tempat,bidang kegiatan,dan lain – lain.
Makna dua buah kata yang bersinonim tidak pernah mempunyai makna yang sama persis, mutlak atau simetris. Kesinoniman mutlak atau kesinoniman simetris tidak ada dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a. Waktu
Misalnya kata hulubalang dan komandan merupakan dua buah kata yang bersinonim tetapi karena faktor waktu, maka kedua kata tersebut tidak bisa dipertukarkan.Hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, sedangkan komandan cocok untuk situasi masa kini.
b. Tempat atau daerah
Misalnya kata saya dan beta merupakan dua kata yang bersinonim , tetapi kedua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan. Beta hanya cocok digunakan dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku).
c. Sosial
Misalnya aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim, teapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya dan tidak digunakan kepada orang yang lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi.
d. Bidang Kegiatan
Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersionim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama islam, kebatinan untuk yang bukan islam dan mistik untuk semua agama.
e. Nuansa Makna
Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, atau mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat bisa digunakan secara umum, tetapi kata melirikhanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata, melolot hanya digunakan dengan mata terbuka lebar, meninjau hanya digunakan hanya dugunakan hanya dugunakan untuk menyatakan melihat dari tempat yang jauh.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sinonim bahasa Indonesia
1)   tidak semua kata dalam bahasa Indonesia memiliki sinonim. Misalnya kata salju, batu, kuning, beras, tidak mempunyai sinonim.
2)   kata-kata  bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Mislanya katabenar dan betul, tetapi kata kebenaran dan kebetulan tidak bersinonim.
3)   kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonimpada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada sinonimnya, yaitu mengeringkan, dan berjemur besinonim dengan berpanas.
4)   ada kata-kata yang yang dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan justru mempunyai sinonim, misalnya kata hitam dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan hitam bersnonim dengan gelap, buruk, jahat dsb.

Latihan Soal Mencocokkan Sinonim

Posted By Pak3Haryanto12:12 AM